-
Melewatkan September
September terlewatkan begitu cepat. Aku tahu aku perlu menulis tapi saking ramainya pikiranku, aku tidak terbujur kaku. Ada begitu banyak yang ingin ditulis tapi tidak tahu dari mana. Seingatku 8 September aku mendapatkan informasi tentang penghentian hubungan kerja atau PHK. Berhubung aku sudah menyampaikan niat untuk mengundurkan diri, aku merasa senang dengan berita ini karena aku mendapatkan paket manfaat yang lebih besar. Mulai dari pesangon 3 bulan, bonus, saving pensiun, pengganti rawat jalan, konseling 3x dan sesi coaching sebanyak 5x. Satu hal yang membuatku terkejut adalah masa kerjaku selesai dipercepat dari masa kontrak yaitu 8 Oktober. Ada momen di mana aku bertanya ke diri sendiri, “Lalu setelah itu, aku ngapain?”…
-
Toxic environment
If you find yourself in a toxic environment that’s affecting your mental well-being, sometimes the best option isn’t to fight the system—it’s to leave. In reality, deeply embedded workplace cultures rarely shift just because of one conversation or a few complaints. Of course, it depends how much and how long do you want to fight for rights and your well-being. Aku merasa setuju dengan pendapat di atas. Kadang, ketika kamu tahu bahwa sistemnya sudah mengakar, salah satu cara terbaik dan tercepat untuk memulihkan kesehatan mental adalah dengan menjaga jarak atau keluar dari sistem tersebut. Aku merasa takjub, heran, dan tidak habis pikir ketika ada yang “rela” bertahan di lingkungan seperti…
-
Melewatkan November
Tulisan ini masih tersimpa di draft. Aku berencana untuk lanjut menulis tapi rupanya tidak sempat. Pikiranku menjelang liburan adalah menikmat liburan. Di akhir Desember aku di rumah orang tua di Pasuruan selama kurang lebih 6 hari. Aku tidak menulis apapun di bulan November. Oktober sampai awal Desember sangat padat. Aku bersyukur bisa melewatinya dengan sedikit guncangan. All works well! Aku melanjutkan kontrak kerja selama 1 tahun lagi. Aku lebih memilih kontrak tahunan daripada jangka panjang agar terpacu untuk mencari yang lain atau lebih peka ketika ada kesempatan lain datang. Karena aku meyakini, kadang suatu kesempatan hadir dalam bentuk yang samar. Kadang dalam bentuk tantangan, hambatan, kesedihan, kegembiraan, keanehan, dan sebagainya.…
-
Refleksi demonstrasi di jalan
Dulu, aku sempat merasa tidak percaya diri menjadi aktivis atau disebut sebagai aktivis. Salah satunya karena aku jarang ikut demonstrasi di jalan. Alasannya karena aku tidak begitu nyaman ikut dalam demonstrasi. Sekitar 3 tahun ke belakang, aku berefleksi: kenapa aku tidak nyaman berada di tengah demonstrasi? Aku nyaman untuk ikut mengorganisir demonstrasi tetapi tidak ikut di dalamnya. Dari pengalamanku sebelumnya, aku menemukan beberapa alasan. Aku pernah ikut dalam sebuah demonstrasi yang berisi anggota komunitas dampingan dari sebuah LSM. Anggota komunitas semuanya perempuan dan hampir semua bertani atau bekerja di/dari rumah. Berhubung mereka harus meninggalkan pekerjaan, LSM tersebut membagikan uang sebagai pengganti waktu mereka. Namun, cara penggantian yang dilakukan menurutku tidak…
-
Semakin sulit untuk menulis
Sesederhana itu yang aku rasakan. Mei 2024, genap aku bekerja selama 2 tahun di lembaga sekarang. Apakah ada banyak beban pekerjaan? Sepertinya tidak berubah drastis. Lalu kenapa aku menjadi sulit menulis? Waktu, masih ada. Tenaga, masih ada. Kreativitas, menipis. Entah kenapa, aku baru menyadari bahwa menulis membutuhkan kreativitas. It was easy because I had so much anger. It was like a flood. Banyak membaca, mengamati dan berefleksi, iya. Kreativitas, hmm! Aku tidak perlu inspirasi yang begitu wah. Kehidupanku sendiri adalah inspirasi untuk menulis karena aku menulis sebagai sebuah jurnal untuk menyusuri apa yang sudah aku lakukan. Ini salah satu cara agar aku bisa “in the present”, mengalami secara sadar. Kenapa…
-
Cinta Picisan
Original posting on https://forevernikn.wordpress.com/2007/09/29/cinta-picisan/ Pada suatu waktu di masa lalu, saya pernah punya pacar, panggil saja AN. Kami “jadian” waktu awal kelas 2 SMP nun jauh di pinggiran Jakarta, berbatasan dengan provinsi Jawa Barat. Saya lah yang pertama kali jatuh hati dan mendekatinya. Sejak kelas satu sampai kelas dua, saya sering nitip salam, minta biodatanya, dan seabrek kegiatan pendekatan alias PDKT. Alhasil, dia mengetahui kalau saya suka dengannya. Entah siapa yang mengajak berpacaran, saya sendiri sudah lupa. Selama berpacaran, tidak ada yang istimewa kecuali saat mendekati akhir hubungan, dia memberikan hadiah ulang tahun berupa sepasang cincin dari rajutan serat kayu dan benang dengan nama saya beserta tiga buah buku Fredy…
-
Sakit kepala
Aku mengalami sakit kepala di hari Sabtu dan Minggu. Sebelumnya di tanggal 1 November siang, aku juga sakit kepala. Tekanan darahku normal jadi sepertinya tubuhku mengalami tekanan di luar kemampuannya. Aku sendiri merasa heran. Kamu kenapa? Apa sih yang dipikirin? Aku sendiri tidak tahu apa yang dipikirkan oleh alam bawah sadarku. Ada sesuatu yang mengganggu alam bawah sadarku. Biasanya bagian kanan yang terasa sakit. Pagi ini aku terpaksa minum Paramex flu supaya bisa tidur. Aku benci dengan sakit kepala seperti ini. Aku khawatir ini psikosomatis. Ini biasanya pertanda aku mengalami burnout. Aku benci karena aku tidak mengetahui penyebabnya. Something is bothering my inner-self. Buatku sulit mengetahui akar dari kecemasan yang…
-
Mengambil jarak
Mungkin sekitar 5 bulan lalu aku bertemu dengan sahabatku di Jakarta. Setelah itu, perhatianku tersita dengan pekerjaan. Sejujurnya aku kecewa dengan pertemuan itu. Sahabatku memiliki 4 anak dan yang bungsu berusia sekitar 15 bulan ketika kami bertemu terakhir kali. Bungsu ini memang selalu dibawa karena usianya. Aku kecewa karena dalam beberapa kali pertemuan terakhir aku merasa tidak bisa bercerita dengan leluasa. Waktunya juga tidak cukup karena masing-masing ingin berbagi. Sebagai seorang ibu, ceritanya fokus pada anak-anaknya. Ketika bertemu, aku justru ingin istirahat dan berusaha menghindari obrolan tentang pekerjaan. Aku merasa tidak punya waktu cukup untuk bercerita karena dia harus mengawasi anaknya bermain dan menyuapi anaknya makan. I don’t know how…
-
Words to think about
A therapist told this to her/his/they patients. Stop assuming that people are mad at you.Stop attempting to read people’s minds.Stop trying to manage the thoughts and emotions of others.Let people be in charge of themselves.If they have something to say to you, they will.And if they don’t, it’s their responsibility, not yours. Then someone sent this to me. The thing about building or having something you love (any kind: person, organization, craft, etc), is that it comes with a looming fear of losing or messing it up one day. There’s a very real upside of having nothing to lose, or being on your lowest-doing the bare minimum and yet feeling…
-
Closing the week
I feel overwhelmed on Thursday and Friday. I was waking up late. The taxi I called didn’t come as I expected. I feel bad about myself and beat myself to it. Sometimes you are your own enemy. When I arrived at the office, I try to motivate myself. I am not fully prepared but the universe helped me out. The discussion went smooth. People appreciated what my team are doing. It inspired them. I feel very happy. There’s intensive meeting and more coming up. I need to prepare myself in term of physic and psychic. I am not a fan of logistical issue. But if the team require me to…