Pengalaman-Saya

Mengambil jarak

Mungkin sekitar 5 bulan lalu aku bertemu dengan sahabatku di Jakarta. Setelah itu, perhatianku tersita dengan pekerjaan. Sejujurnya aku kecewa dengan pertemuan itu. Sahabatku memiliki 4 anak dan yang bungsu berusia sekitar 15 bulan ketika kami bertemu terakhir kali. Bungsu ini memang selalu dibawa karena usianya.

Aku kecewa karena dalam beberapa kali pertemuan terakhir aku merasa tidak bisa bercerita dengan leluasa. Waktunya juga tidak cukup karena masing-masing ingin berbagi. Sebagai seorang ibu, ceritanya fokus pada anak-anaknya. Ketika bertemu, aku justru ingin istirahat dan berusaha menghindari obrolan tentang pekerjaan. Aku merasa tidak punya waktu cukup untuk bercerita karena dia harus mengawasi anaknya bermain dan menyuapi anaknya makan. I don’t know how she has all the energy.

Ketika bertemu dengan dia, aku ingin mendapatkan “me time” berdua. Gara-gara itu aku jadi malas bertemu lagi dengannya. Aku juga jarang menghubunginya. Aku mengambil jarak. Menurutku tidak perlu sejauh itu tapi aku seperti merasa dia tidak lagi menjadi ruang amanku.

Lalu apa atau siapa ruang amanku? Untuk beberapa hal, teman-teman di perkumpulan masih menjadi ruang aman. Untuk hal-hal tertentu, teman-teman di pekerjaan dan untuk hal yang lebih pribadi, rasanya hanya blog ini.

Minggu depan aku akan ambil cuti dan ingin merenungi bagian ini. I think I am not mentally healthy.

Aku menulis ini karena kemarin dia mengajakku bertemu. Aku menolaknya. Pertama, informasi itu datang mendadak. Setelah dia berada di perjalanan, baru menghubungi aku. Kedua, aku yakin dia membawa keluarganya. Berapa jumlahnya, aku tidak tahu. Ketiga, aku tidak menyukai tujuannya. Kami berdua pernah mengunjungi tempat itu sebelumnya beberapa tahun lalu. Keempat, aku hampir yakin pertemuan itu tidak akan memberi ruang untukku bercerita dengan bebas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *