Melewatkan September
September terlewatkan begitu cepat. Aku tahu aku perlu menulis tapi saking ramainya pikiranku, aku tidak terbujur kaku. Ada begitu banyak yang ingin ditulis tapi tidak tahu dari mana.
Seingatku 8 September aku mendapatkan informasi tentang penghentian hubungan kerja atau PHK. Berhubung aku sudah menyampaikan niat untuk mengundurkan diri, aku merasa senang dengan berita ini karena aku mendapatkan paket manfaat yang lebih besar. Mulai dari pesangon 3 bulan, bonus, saving pensiun, pengganti rawat jalan, konseling 3x dan sesi coaching sebanyak 5x. Satu hal yang membuatku terkejut adalah masa kerjaku selesai dipercepat dari masa kontrak yaitu 8 Oktober. Ada momen di mana aku bertanya ke diri sendiri, “Lalu setelah itu, aku ngapain?”
Di momen itu aku menyadari kalau “bekerja” tidak hanya untuk gaji, bersosialisasi, dan mengasah keterampilan, tapi memberi kesibukan dan tujuan. Setiap pagi, aku bangun dengan rencana melakukan ABC lalu sekarang tidak terstruktur. Aku harus membuat rencana kegiatanku sendiri. Tidak bergantung pada arahan orang atau institusi lain.
Bukan itu saja. Aku kemudian mengetahui ada beberapa orang di tim regional yang mengalami PHK, salah satunya sudah bekerja sekitar 10 tahun di lembaga ini. Sulit membayangkan perasaannya. Karena ada beberapa orang di regional dan di region lain mengalami hal yang sama, suasana emosional sangat terasa di dalam tim. Tangisan, kesedihan, terkejut, perpisahan, dan berbagai perasaan campur aduk. Bahkan bagi mereka yang masih bertahan pun, proses selanjutnya tidak mudah. Beberapa proyek akan selesai dan mereka pun “dipaksa” untuk melihat kembali relasi dengan lembaga. Bukan tidak mungkin, mereka juga ancang-ancang untuk mencari pekerjaan lain dari sekarang.
Selama satu bulan tersebut, aku sudah mengakses 2x konseling dengan psikolog dan 2x sesi coaching. Keduanya menguatkan aku. Sahabatku juga sangat perhatian dengan selalu mengecek kondisiku. Satu hal yang aku syukuri, lembagaku sebelumnya, masih menghubungi dan meminta bantuanku untuk menjadi salah satu narasumber. Mereka semua adalah support system. Aku merasa terhibur dan kondisi ini membuatku stabil; tidak jatuh atau menangis. Aku sedih, iya tapi aku dikelilingi oleh orang yang mendukung. Buatku, kondisi ini sangat istimewa.
Ada banyak hal dari proses PHK ini yang aku pelajari. Aku akan ceritakan satu per satu. Aku harus menceritakannya supaya aku tidak lupa. Cerita ini aku tulis, bukan untuk orang lain, tapi terutama untuk diriku sendiri.