Perjalanan-Saya

Mengurai keruwetan dengan decluttering

Seorang teman pernah menyarankan untuk menonton sebuah film di Netflix tentang decluttering yang menunjukkan hubungan bersih-bersih dengan kesehatan mental penghuninya. Lalu aku baca sebuah utas di Threads dari amandastatic_ yang sepertinya merangkum sebagian dari makna decluttering.

Dalam bahasa Indonesia, istilah ini berarti proses memilah dan merapikan barang-barang yang tidak terpakai atau dibutuhkan. Ada yang mengatakan bahwa istilah decluttering berbeda dengan “bersih-bersih” karena istilah yang pertama punya tujuan untuk fokus pada fungsi dan nilai barang yang dimiliki sehingga ada ruang yang memadai untuk barang, selain juga rumah menjadi lebih tertata dan nyaman. Mungkin berbeda tetapi menurutku istilah beberes masih bisa digunakan karena dengan memilah dan merapikan barang secara langsung ikut “membereskan” pikiran. Seperti mengurai dan merefleksikan prioritas dan mengatakan “STOP” ke diri sendiri.

Kembali ke utas di atas, ada beberapa hal yang menarik. Ketika barang di dalam rak atau kotak penyimpanan terus berantakan atau terlalu padat, kemungkinan besar barang sudah kebanyakan dan tidak ada ruang. Kalau ingat kembali rasa lega yang aku rasakan ketika selesai menjual rumah, seperti itu juga rasa lega yang aku rasakan ketika selesai beberes. Barang apapun yang kita miliki, setinggi apapun harganya, kalau terasa seperti beban maka tidak layak untuk dipertahankan. Dia bukan lagi aset.

Ruang yang kamu punya itu mahal dan berharga! Aku setuju. Ruang secara fisik dan mental sangat berharga. Bahkan aku jadi berpikir, kalau misalnya aku dengan berbagai alasan pisah dengan suami dan aku tidak punya rumah. Apa yang akan aku lakukan dengan buku, sepatu, dan bajuku. Kalau untuk barang atau dokumen berharga, aku bisa simpan di safe deposit box.

Secara tidak sadar, barang atau hubungan yang berantakan atau tidak diberi ruang cukup akan membuat pemiliknya menjadi overwhelmed atau cemas berlebihan secara tidak sadar. Rasa cemas berlebihan dan “kewalahan” tersebut membuat seseorang terdistraksi dan mengganggu prioritas atau fokus dalam hidupnya. Dari percakapan aku dengan beberapa teman dua minggu lalu, aku juga belajar kalau dalam dua atau tiga tahun terakhir, ada banyak orang yang melampiaskan keresahan dengan belanja secara berlebihan. Termasuk aku. Ya, aku semakin sadar.

Jika barang disimpan karena alasan harganya mahal, prestige tinggi, hadiah yang tidak terpakai, maka barang itu menjadi beban dan menyerap energi. Barang yang dilepas atau diberikan ke orang lain bukan berarti tidak dihargai. Justru dengan melepaskannya, kita memberi ruang agar barang tersebut berguna bagi orang lain, di tempat lain. Dengan melepaskan sebuah hubungan, kita juga memberi kesempatan bagi diri sendiri dan mantan untuk membangun sebuah hubungan baru.

Aku merefleksikan ke diri sendiri. Kenangan tidak harus disimpan dalam bentuk fisik (barang) yang menumpuk dan membuat rumah menjadi sesak. Melepaskan diri dari suatu keterikatan emosional, baik itu barang atau hubungan, bukan satu hal yang mudah. Proses ini secara tidak langsung membantu untuk memilah hubungan apa yang benar-benar bermakna dan aku inginkan dalam hidup; mana hubungan yang ingin dipertahankan atau tidak.

Selama ini banyak hal yang mengganggu dan menyita energi. Mungkin awalnya aku merasa punya kontrol tentang barang-barang ini, tetapi sebaliknya. Barang-barang itu yang mengontrol pikiranku dengan stres dan cemas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *