“Release” yang tidak terduga
Ada keraguan dan kekhawatiran sebelum aku menyampaikan informasi bahwa aku tidak melanjutkan kontrak kerja. Ada banyak pemikiran dan pertimbangan yang mendorong aku untuk mencari waktu terbaik. Aku memutuskan waktu 3 bulan memadai. Secara kontrak, waktu 1 bulan pun sudah cukup. Tetapi aku yang paling berkepentingan untuk menyampaikannya secepat mungkin. Bagiku, ini seperti sebuah closure.
Ternyata aku memang membutuhkan closure ini. Setelah aku menyampaikan informasi tersebut, aku merasa lebih lega dan tenang. Rasa ragu dan khawatir tentang pekerjaan, masa depan, dan keuangan tidak lagi muncul. Aku merasa lebih ajeg atau lebih optimis. Aku tidak benar-benar merencanakan apa yang akan aku lakukan pasca undur diri, tetapi aku merasa punya linimasa yang jelas untuk melakukan perencanaan. Aku memerlukan kejelasan tentang closure di tahap yang sekarang dan merasa tenang bahwa orang di sekelilingku juga mengetahuinya. Ketika ada kejelasan itu, aku merasa lebih tenang untuk merencanakan tahap selanjutnya.
Penyampaian undur diri ini juga merupakan usaha aku untuk mengambil alih keputusan. Tidak lagi menunggu lembaga untuk memutuskannya bagiku. Terutama ketika lembaga tersebut membuat aku menunggu lebih lama dari waktu yang sudah diinfokan sebelumnya. Penundaan informasi ini sudah terjadi dua kali dan aku memutuskan untuk tidak ingin menunggu lebih lama. Aku bangga bisa mengambil keputusan ini.
Keputusan ini pun aku ambil dengan membaca berbagai “tanda” dan menerjemahkannya sesuai dengan pengetahuanku. Kalau aku lihat kembali, sepertinya berbagai tanda yang muncul dan penundaan informasi perubahan lembaga ini yang membuat aku gelisah. Kegelisahan ini sangat mengganggu dan aku perlu memutuskan rantai kegelisahan ini. Dengan menyampaikan bahwa aku tidak akan melanjutkan kontrak kerja maka aku bisa lebih tegas dan menjaga jarak dengan berbagai perubahan di lembaga.