Refleksi demonstrasi di jalan
Dulu, aku sempat merasa tidak percaya diri menjadi aktivis atau disebut sebagai aktivis. Salah satunya karena aku jarang ikut demonstrasi di jalan. Alasannya karena aku tidak begitu nyaman ikut dalam demonstrasi. Sekitar 3 tahun ke belakang, aku berefleksi: kenapa aku tidak nyaman berada di tengah demonstrasi?
Aku nyaman untuk ikut mengorganisir demonstrasi tetapi tidak ikut di dalamnya. Dari pengalamanku sebelumnya, aku menemukan beberapa alasan. Aku pernah ikut dalam sebuah demonstrasi yang berisi anggota komunitas dampingan dari sebuah LSM. Anggota komunitas semuanya perempuan dan hampir semua bertani atau bekerja di/dari rumah. Berhubung mereka harus meninggalkan pekerjaan, LSM tersebut membagikan uang sebagai pengganti waktu mereka. Namun, cara penggantian yang dilakukan menurutku tidak elegan. Orang luar yang melihatnya tanpa mengetahui konteks bisa menganggap mereka adalah demonstran bayaran.
Alasan lain. Aku pernah ikut demonstrasi dengan berdiri di barisan agak depan, akibatnya berdekatan dengan mobil komando dengan mega speaker. Aku sangat tidak nyaman, mendekati rasa takut setiap speaker berbunyi. Aku tidak tahu kenapa. Rupanya aku tidak sendiri. Aku melihat ada peserta lain yang menutup telinganya atau berpindah tempat. Masalahnya, teman-temanku sudah berada di barisan depan dan sepertinya baik-baik saja. Jadi aku terus bertahan walau merasa sangat tidak nyaman.
Kemarahan. Aku paham bahwa demonstrasi terjadi karena kekecewaan dan kemarahan terhadap otoritas tertentu. Aku juga paham bahwa orasi yang kuat perlu didukung dengan semangat dan intonasi yang menggelegar. Aku kemudian juga paham kalau aku memiliki trauma tertentu terhadap ekspresi menggelegar dan menghubungkannya dengan kemarahan yang tidak aku sukai. Kemarahan seperti itu pernah membuat aku merasa kecil, tidak berdaya, dan lemah.
Aku juga menyadari untuk demonstrasi diperlukan jiwa dan raga yang sehat. Jika merasa sakit, tidak perlu dipaksakan. Kadang tim medis tidak memadai dan konsentrasi mereka terpecah sehingga tidak bisa merawat peserta yang sakit. Aku sendiri pernah khawatir mengalami panic attack di tengah demonstrasi. Untungnya tidak terjadi dan aku berusaha mengelola emosi.