October-feast
Aku harus merayakan Oktober. Prosesnya sudah berjalan di September. Aku menyelesaikan beberapa persyaratan dokumen terkait rumah di Pakis. Sempat ada keraguan, apa aku akan bisa menjualnya. Alhamdulilah, proses berjalan lancar di awal Oktober. Seluruh dokumen sudah diselesaikan bulan ini. Aku belajar kadang memiliki sesuatu -barang atau perasaan terhadap seseorang- bisa menjadi sebuah beban. Rumah di Pakis itu lama-lama menjadi beban. Salah satunya karena aku tidak cukup lama tinggal di sana dan proses pembeliannya termasuk cepat.
Aku lega dan bahagia karena melepas rumah ini ke pemilik baru. Aku belum ada keinginan untuk membeli rumah lagi. Aku merasa sudah cukup dengan menempati dan merawat rumah yang ada di Bogor. Aku merasa akan tinggal di sini dalam waktu yang cukup lama sampai ada keinginan untuk pindah atau aku merasa tidak cocok lagi berada di sini.
Aku merasa bangga karena bisa melakukan transaksi yang menurutku besar. Aku belum utak-atik uang hasil penjualan rumah. Belum didepositokan atau apapun. Aku ingin melihatnya saja. Aku memiliki rumah itu sepertinya Desember 2015. Kemudian pertengahan 2016 pindah ke Bogor untuk lanjut kuliah. Selama 2016 sampai awal 2024, rumah itu dikontrakkan. Biaya kontrak aku gunakan untuk merawat rumah. Aku beli rumah itu 165 juta, pas dengan uang hasil penjualan rumah di Suropati, Malang. Jadi sekitar 8 tahun aku memiliki rumah itu.
Rumah Bogor ini sudah aku tempati sejak 2018, jadi hampir 7 tahun. Lumayan juga perjuangan berpindah domisili. Kalau tidak salah, tahun lalu aku dan suami resmi jadi warga Bogor. Pindah KK dan KTP.
Aku bangga karena bisa melakukan transaksi itu di tengah tuntutan pekerjaan yang sangat ketat. Aku merasa akhir tahun adalah periode yang menegangkan. Bukan hanya ada banyak tahapan yang harus dilakukan tetapi juga perubahan jadwal dan situasi yang membuat pengeluaran meningkat dan jadwal kegiatan menjadi tidak menentu.
Aku ingin merayakan Oktober bersama Bapak dan Ibu. Pada saat transaksi kemarin, aku harus cepat kembali ke Bogor karena jadwal kegiatan padat memerlukan konsentrasi dan akses internet stabil. Aku tidak sempat ke rumah orang tua. Untungnya aku masih bisa sempatkan ke tempat pijat langganan. Enak sekali! I need to reward myself. Di hari itu aku memang ambil cuti.
Oh, terkait cuti. Aku masih punya 12 hari jatah cuti tahun ini. Aku berencana mengambilnya untuk menemani bapak jalan-jalan ke luar negeri. Bapak ingin bertamasya ke 3 negara: Malaysia, Singapura, dan Thailand. Ada paket tur yang ditawarkan dengan biaya 5,2 juta++ per orang. Masalahnya bapak belum punya paspor. Jadi aku menunggu dia mengurus paspor dan beberapa hal terkait akses dana pensiunnya.