Sajak-Saya

Cinta Picisan

Original posting on https://forevernikn.wordpress.com/2007/09/29/cinta-picisan/

Pada suatu waktu di masa lalu, saya pernah punya pacar, panggil saja AN. Kami “jadian” waktu awal kelas 2 SMP nun jauh di pinggiran Jakarta, berbatasan dengan provinsi Jawa Barat. Saya lah yang pertama kali jatuh hati dan mendekatinya. Sejak kelas satu sampai kelas dua, saya sering nitip salam, minta biodatanya, dan seabrek kegiatan pendekatan alias PDKT.

Alhasil, dia mengetahui kalau saya suka dengannya. Entah siapa yang mengajak berpacaran, saya sendiri sudah lupa. Selama berpacaran, tidak ada yang istimewa kecuali saat mendekati akhir hubungan, dia memberikan hadiah ulang tahun berupa sepasang cincin dari rajutan serat kayu dan benang dengan nama saya beserta tiga buah buku Fredy S (kalau tidak salah tiga lalu satu hilang). Sejak itu saya suka novel Fredy S.

Selama berpacaran, saya dan AN tidak pernah bergandengan tangan, duduk berdekatan, apalagi yang lebih dari itu. Jalan bersama pun tidak sering kami lakukan, paling banter dua sampai tiga kali. Saya belum tahu “how to”-nya pacaran. Lalu saya jenuh, hubungan itu tidak membawa saya pada “sesuatu yang baru”. Saya kecewa karena perasaan yang dulu begitu menggebu ternyata mudah menguap. Saya putuskan dia dan dia pun terkejut. Saya masih ingat mimiknya. Dia mempertanyakan putusan saya tapi saya juga belum bisa menjelaskannya. Saya hanya tahu bahwa tidak ada rasa seperti dulu dan hubungan itu tidak layak saya perjuangkan.

Sejak perpisahan SMP, saya hanya pernah sekali bertemu dengannya. Setelah itu, tidak pernah. Suatu waktu ketika saya berada di Jakarta dan main ke daerah Arundina, saya terkejut karena bertemu dengan wajah yang saya kenal. Saya ragu tapi Elin, teman saya, juga mengenalinya.

“Kamu AN? Anak SMP 196?” saya bertanya.
“Eh, gue kayaknya kenal deh?” sahutnya sambil berusaha mengingat wajah saya.
Elin memukul pundak AN, “Ya iyalah. Dia kan mantan lu, AN. Cinta pertama.”
“Wah! Elin ya? Lah, elu Niken dong?”
Saya tersenyum. Ya, dia masih mengenal saya. Di mana ada Elin, pasti ada saya.
“Eh, duduk sini aja deh.” ajak AN.
Kami duduk bertiga di meja bundar. AN masih memandangi saya tidak percaya. Saya sendiri masih terkejut.
“Gimana kabar lu?” tanya AN.
“Ya begini. Ceritanya panjang.”
“Ah iya. Udah berapa tahun ya?”
“Emmm, coba hitung. Terakhir ketemu kelas 1 SMA kan? Waktu lu minta balik ke gue.” saya meliriknya.
AN tersenyum kecut.
“Ditambah kuliah empat tahun jadi enam tahun lalu dari 2001 ke 2007 jadi 13 tahun. Wah, lama banget!” saya terkaget. AN tertawa.
“Lu kangen dong sama gue?” AN bertanya.
“Kangen sih tapi kalo ketemu jadi basi.”
Pertemuan itu diwarnai dengan tawa ceria.

“Gue denger lu sempat kerja di Bali.” saya mulai menginterogasi.
“Emm, ya sempat di cafe dan bar. Abis itu surut karena bom dan balik ke Ranggon.”
“Itu tatoo permanen, AN?” Elin menunjuk ke tatoo di lengan AN dengan matanya.
“Iya, mau diilangin sayang.”
“Itu catatan masa lalu di Bali ya?” saya menggodanya.
“Hahahaha, kebaca ya?”
“Pake feeling aja.”
AN menggeleng kepalanya.

“Elu nggak banyak berubah, Ken.”
“Apanya?” tanya saya heran.
“Eh, ada deng. Wajah lu jadi lebih, gimana ya?”
“Manis?”
“Hahaha. Maksud gue jadi lebih, karakter elunya keliatan.”
“Karakter yang mana?”
“Yang cool, dingin,”
“Tapi nakal?” saya langsung menimpali.
“Hahaha, masa sih kamu nakal? Kamu tuh keras kepala, terlalu pede.”
“Ya, ya, ya.” saya mengangguk.

“Muka lu lebih baik dari yang dulu.” saya menatap AN.
“Hahaha, iya dulu gue jerawatan ya?”
“Banget.”
“Kok elu suka sih sama gue?” tanya AN sambil menggeser kursinya mendekati saya.
“Gue juga nggak tau, namanya juga jatuh cinta, sulit dijelaskan tapi bisa dirasakan. Lu tau nggak? Senior gue tuh bingung pas tau kalo kita jadian.”
“Ya iyalah. Elu dapat ranking terus sementara gue nggak naik kelas. Tapi gara-gara itu kita bisa jadian ya…hahaha.”
“Lu tau Mba Yuni? Yang cantik dan pinter itu? Dia pernah nasehatin gue. Dia bilang, Ken, kalo cari pacar, cari yang selevel. Pendidikannya bagus, ganteng, masa depannya cerah. Waktu itu dia baru tahu kalo kita pacaran.”
“Hahahaha,” AN tertawa dengan keras. “Ya, gue bisa ngerti. Lalu lu bilang apa?”
“Gue nggak ngerti yang dia omongin.” saya jawab sekenanya.
“Hahahaha.”
“Gue diem aja. Gue suka aja sama elu, so what?”

Makanan datang dan kami menyantapnya sambil ngobrol.
“Ngomong-ngomong, gue masih nggak tau kenapa lu mutusin gue.” tanya AN dengan mimik serius.
“Waktu itu gue udah bilang deh.”
“Elu cuma bilang, pokoknya kita putus. Gue bingung, kita nggak pernah berantem, nggak pernah ada masalah tau-tau putus.”
“Ya, gue udah nggak ngerasa sayang sama elu. Perasaan gue udah beda.”
“Secepat itu?”
Saya mengangguk.

“Elu membosankan.” ujar saya.
“Heh?” AN kaget dan tidak jadi menyuap makanan ke mulutnya.
“Ya, gue juga membosankan kali. Suasananya udah nggak enak.”
“Oh. Oke.”
“Setelah itu, elu udah berapa kali pacaran?” Saya memancingnya.
“Beberapa kali.”
“Halah, kayak nggak pernah belajar matematika aja. Sebutkan nomor dong!”
“Weits, mainnya penjumlahan. Ya deh, enam cewek.”
“Yang gebetan nggak diitung ya?” Saya melirik.
“Weh, jangan gitu dong. Kok jadi interogasi?” AN protes.
“Gue emang bakat jadi detektif.”
“Hehehe. Elu sendiri gimana?”
“Yang tadi belum tuntas.”
“Lho, enam itu udah mentok. TTM kan nggak diitung.” AN bersikeras.
“Tuh, curang kan. Padahal jumlah sebenarnya enam kuadrat kali.”
“Hahaha. Gantian ah!”
“Nggak, gue nggak pernah pacaran lagi.”
“Bokis!”
“Nggak percaya?” saya bertanya menantang.
“Mana buktinya?”
“Weeee!” Saya menjulurkan lidah ke arahnya.
“Gue emang nggak mau pacaran kok. Sibuk.”
“Sibuk apaan?”
“Menganalisis kehidupan.”
“Weeee,” AN mengolok saya.
“Lagian dia juga galak ama cowok, mana ada yang mau deket?” Tambah Elin
“Galakan mana sama herder?” tanya AN
“Galakan Niken dong,” seru Elin.
Saya menggelengkan kepala.

“Elu tuh ya, Ken. Kalo dilirik cowok, kasih senyum jangan malah dipelototin. Lu pikir cowok setan?”
“Hahahaha,” saya tergelak.
“Gue sih yakin banyak cowok yang suka sama elu. Tapi elunya yang sangar.”
“Gue kalem lagi!”
“Enggak! Sangar, dingin, cuek, nggak romantis.”
“Ya, kalem sama sangar kan nggak beda jauh.” saya membela diri.
AN mencibir.
“Masih suka nembak cowok duluan?”
Saya terkejut. Ah, kurang ajar AN!

“Emm, apa salahnya?”
“Oya, gue denger lu masuk kajian wanita UI.” AN malah beralih subyek.
“Iya, udah lulus kok.”
“Ya, cocok emang dengan jiwa lu. Gue sih nggak kaget waktu Jibam ngasih tau elu kuliah S2 di kajian wanita. Elu selalu penuh semangat…untuk mematahkan hati cowok.”
“Gue kan anggota pramuka.”
“Hahaha. Nembak cowok nggak masalah. Cuma kadang kan ada cowok yang nggak suka.”
“Itu urusan dia. Masak gue nggak boleh bilang kalo gue naksir cowok.”
“Hahaha, begini nih Niken.” ujar AN sambil tertawa.

“Elu sendiri gimana? Masih suka pegang-pegang cewek?” tanya saya sambil melirik penuh arti ke Elin.
“Wah, apa nih maksudnya?” Mimik AN berubah.
“Emm, kura-kura!”
“Eits, gue beneran nggak ngerti.”
“Waktu perpisahan di pantai dulu, emangnya lu mabok sampe nggak inget?”
“Maksud lu?”
“Maksud gue, nggak perlu segitunya gandeng, pelukan dan ciuman sama HR di depan gue.”
“Hahahaha,” kali ini AN menggebrak meja saking histerisnya.
“Oke, oke, gue ngerti. Jadi cemburu nih?” tanyanya.
“Telat, Bang. Gue udah jadi abu waktu itu, angus, kebakar.”
“Hahaha. Lin, sejak kapan Niken jadi lucu begini?”
“Sejak dia berhenti nembak cowok.” sahut Elin.
“Hahahaha.”
Tawa AN semakin keras.

“Gue nggak ada apa-apa sama HR. Gue emang pingin bikin elu cemburu aja. Berhasil ya?”
“Berhasil, ya. Berhasil meyakinkan gue kalo mutusin elu adalah langkah terbaik.” saya menjawab sambil menyuap sisa kuah mpek-mpek di piring.
“Wah, elu pinter ngomong sekarang.”
“Daripada elu, pinternya nyium cewek.”
“Wah, sadis teman lu.”
“Namanya juga Rambo.”
“Hahaha.”
Rambo adalah nama julukan ibu Elin pada saya. Entah kenapa dia memanggil saya Rambo, mungkin karena gaya berjalan saya yang dianggap gagah.

“Elu sendiri bukannya udah dicium MN?” tanya AN.
“Eh, please deh. Dia emang minta cium sama gue di bus tapi nggak gue kasih. Emangnya gue tembok yang bisa dicium kapan aja?”
“Yakin?”
“Banget. Gue bilang, ENGGAK, lalu gue pelototin tuh anak dan dia nggak berani.”
“Hahaha, elu sebenarnya cewek atau dukun sih?” AN menatap wajah saya.
“Dibilang Rambo nggak percaya!” Elin protes.
“Hahahaha.”

AN menyambung, “Gue denger, si MH juga pernah minta cium sama elu.”
“Dasar cowok tukang gosip! Pasti bukan dia sendiri yang bilang, hayo, ngaku!”
“Kok tau?”
“Lah MH itu kan lagi mabok pas minta cium ke gue. Mana inget dia? Dia abis nyimeng, gua tau dari matanya. Gue bilang, iya deh, tapi nanti aja ya, tunggu gue. Abis itu gue nggak balik lagi. Hahaha.”

“Tapi gue lihat sekarang elu jadi lebih feminin. Iya nggak, Lin?” AN melirik Elin.
“Iya. Terutama pas kuliah di kajian wanita. Jilbabnya itu udah lebih kalem lho. Dulu pas kuliah, nggak matching banget, warna jilbabnya nggak keren. Sekarang udah mending banget.”
“Udah gitu, dia pake lipstik lagi.”
“Iya, lalu kenapa?” saya memandang ke arahnya.
“Elu kena pengaruh sinetron?”
“Hehehe, kurang ajar lu! Ya, gue cocok dengan warna lipstik ini. Tambah manis kan?”
“Cewek manis nggak boleh galak-galak sama cowok.”
“Weeee, dasar cowok nggak punya nyali.”

Kami memesan beberapa minuman tambahan.
“Gue denger lu sempat pindah ke Jawa Timur.” AN berusaha mengorek beberapa informasi dari saya.
“Iya, kerja di Paiton, Probolinggo. Lalu kuliah lagi di UI lalu pindah ke Jogja.”
“Wah, bertualang dong. Nyari apa?”
“Pengalaman hidup, mencari kerja yang sesuai dengan hati.”

“Sampai sekarang gue belum nemu pacar kayak elu.” ujar AN.
“Ya, iyalah. Siapa sih yang bisa nerima elu apa adanya; tukang palak, ngerokok, suka nyimeng, minum.”
“Hahaha, masak sih gue separah itu?”
“Itu belum ditambah kasus dengan HR ya?” .
“Wah, dia masih ngungkit itu terus, Lin.”
“Dalem kayaknya.” sahut Elin.
“Hahahaha.”

“Eh, gue minta nomor HP lu dong?” AN mengeluarkan HP-nya.
“Nih!” Saya menunjukkan nomor di HP.
“Gue missed call ya?” tanyanya.
Beberapa detik kemudian suara HP berdering. Saya mencari-cari HP. Ah, tidak, HP saya tidak berdering. Walah, saya ketiduran! Saya memandangi dinding kamar. Emm, saya masih di Jogja, bukan di Jakarta. Entah dimana AN.

Lempuyangan, 18 Agustus 2007

SM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *