Pengalaman-Saya

Ramadhan 2025 dan istirahat

Hari kedua Ramadhan 2025. Dua hari lalu aku berkonsultasi dengan psikolog melalui https://rehat.santosha.id/. Prosesnya cukup baik dan membantu menguraikan beberapa masalah.

Aku terdorong untuk berkonsultasi karena minggu lalu selama dua hari aku mengalami sakit kepala yang mengganggu. Setelah aku cek tekanan darahku menggunakan alat digital, hasilnya di bawah 87/60. Ya pantes aja. Aku merasa harus memulihkan kesehatan fisik. Dalam konseling aku menyampaikan kalau kemungkinan tekanan darahku turun karena aku kurang tidur. Penyebabnya mungkin dua hal: gejala perimenopause dan tuntutan pekerjaan.

Dalam diskusi, aku menyadari bahwa sebagian besar tekanan mungkin berasal dari diriku sendiri yang ingin menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Jika tidak selesai maka akan menjadi beban pikiran. Satu hal yang menyentuh, meskipun aku pernah mendengar sebelumnya, adalah kerelaan untuk memaafkan diri sendiri jika aku tidak bisa mencapai target yang aku buat. Selain juga dengan menyesuaikan target karena mungkin target tersebut tidak sesuai dengan kondisi saat ini. I beat myself up; itu menyakitkan karena aku tidak bisa lari dari diriku sendiri.

Aku juga belajar kalau “kegaduhan” perangkat digital dan media sosial menyumbang pada kecemasan. Kadang aku merasa media sosial memberi hiburan dan kesempatan untuk berbelanja. Tetapi seringkali terlalu banyak waktuku di media sosial, aku jadi lupa atau sengaja melarikan diri untuk merawat mentalku. Aku “malas” untuk mengajak bicara diri sendiri dan mencari tahu akar masalah. Jauh lebih mudah untuk membaca status orang lain atau menonton video kucing yang lucu.

Aku juga semakin sulit untuk menulis jurnal karena merasa “tumpul”. Untuk menulis tentang “apa yang aku rasakan hari ini”, aku perlu duduk sendiri untuk refleksi. Kadang begitu banyak hal aku lakukan secara cepat dan otomatis sehingga aku lupa “dimana aku?”. Kadang makan pun terburu-buru karena ada jadwal rapat dan tugas yang belum selesai. Tidak ada “tombol reset”.

Satu hal yang menyedihkan. Aku menyadari bahwa salah satu alasan aku sakit (fisik dan mental) adalah karena aku tidak bisa istirahat secara layak. Aku tidak tahu atau mengabaikan pengetahuan untuk beristirahat secara baik. Di hari Sabtu-Minggu, aku sibuk dengan media sosial, menonton film, melakukan perawatan kecantikan, dan tidur. Tidak ada yang salah, tapi aku tidak memberi waktu untuk merefleksikan apa yang aku lakukan. Kalau aku bahkan tidak bisa istirahat dengan benar, aku akan mengalami sakit yang sama.

Aku ingin beristirahat dengan benar sehingga bisa memaknai apa yang aku lakukan dengan lebih baik, bisa memulihkan diri dari ketakutan, kekhawatiran, dan keraguan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *