Surat untuk sahabat 3, Agustus 2026
Halo D,
Surat ini tidak bermaksud membuat D sedih. Bisa jadi surat ini membantu D mengatasi rasa kehilangan. Dalam 2 tahun terakhir aku merasakan penurunan fisik ibuku. Seringkali aku nostalgia tentang kegiatan yang sering aku lakukan bersama ibu.
Sejak aku kecil, ibu sering mengajak aku jalan kaki di sekitar komplek perumahan. Semakin besar, aku sering diajak jalan ke tempat yang lebih jauh dan lebih ramai. Waktu itu ibu bahkan lebih gesit dan berani. Aku belajar dari ibu untuk menerobos masuk bus di terminal Kampung Rambutan, menjaga barang dari copet di Tanah Abang, berjalan cepat supaya tidak ketinggalan metromini, menawar harga di pasar tradisional, dll. Pengetahuan untuk bertahan hidup harian; ibu terbaik. Jangan malu, jangan lambat, harus cepat, banyak hal dia ajarkan. Aku sempat kewalahan mengikuti dia. Kenangan yang aku suka adalah jalan bersama ibu sambil ngobrol berbagai hal. Berhubung aku pendiam, biasanya ibu yang banyak cerita. Cocoklah kita! Berjalan beriringan sambil bergandengan tangan; Menyenangkan. Jalan di mal, jalan untuk beli makan di perumahan, jalan beli baju, ikut kegiatan ibu di Bhayangkara, jalan ke swalayan atau klinik kesehatan.
Sekarang ibu tidak suka untuk berjalan kaki jauh. Sekitar 10 tahun terakhir, tumitnya sering nyeri. Masuk usia 60 tahun, langkahnya lebih lambat. Ibu juga menyadari itu. Masuk usia 70 tahun, kecepatan jalan semakin lambat. Tapi keinginan dan semangat dia untuk selalu menemani aku tidak berubah.
Selama di Pandaan, ibu sering menemani aku berjalan ke terminal bus. Lokasi tidak jauh tapi harus menyebrang jalan besar yang sangat ramai. Dia sering khawatir.
Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan ibu berjalan kaki ke berbagai tempat. Aku cari di statistik kalau usia harapan hidup perempuan Indonesia 74-77 tahun. Ibuku tahun ini 74 tahun.
Aku berharap tidak ada penyesalan tetapi biasanya ini terjadi belakangan. Sepertinya tiap anak perempuan punya kenangan yang mirip.
Peluk hangat.
6 Agustus 2026.