Kehilangan semangat Ramadan
Ramadan tahun ini berbeda dari tahun lalu. Tahun lalu aku masih bersemangat dan cukup bertenaga untuk tetap berjalan kaki di sore hari. Aku juga dapat mengatur pola makan sehingga merasa lebih ringan. Selama hampir 10 hari menjalani puasa sekarang, aku merasa tidak bertenaga secara fisik. Aku belum pernah berjalan kaki lagi. Cuaca juga tidak mendukung. Biasanya di sore hari, Bogor akan hujan deras. Hari ini saja aku sempat kehujanan ketika membeli lauk untuk berbuka.
Aku masih berolahraga sedikit di dalam rumah dengan resistance band dan melakukan peregangan. Itu lumayan tapi aku merasa kehilangan momen healing dan meditasi yang biasa aku dapatkan ketika berjalan kaki.
Sejak memasuki Ramadan, aku tidur lebih awal. Biasanya jam 8 atau 9 aku sudah tidur. Kemudian ketika suamiku pulang, yaitu sekitar jam 11, aku terbangun sebentar lalu tidur kembali. Lalu jam 2 atau 3 aku akan terbangun dan tidak bisa tidur. Alhasil aku sahur lebih awal sambil mulai bekerja karena aku bingung bagaimana menghabiskan waktu. Kemudian setelah sholat subuh di jam 4:45, aku mulai mengantuk. Aku kembali tidur dan bangun sekitar jam 7 lalu mulai beraktivitas.
Saat ini aku tidak lagi menonton K-drama. Selain karena menurutku tidak ada yang menarik, aku juga tidak bersemangat menonton. Aku merasa terlalu lelah untuk melakukan hal lain di luar pekerjaan dan menonton video di Yo*T**e. Aku tidak tahu apakah perasaan ini berhubungan dengan menopause atau tidak.
Kemarin adalah Hari Perempuan Internasional. Banyak teman-teman yang ikut berdemo di Jakarta. Aku tidak ikut. Di Bogor mulai hujan jam 13:30, selain itu alasan sama, aku merasa tidak bertenaga dan tidak ada semangat. Aku ingin mengembalikan semangat yang ada sebelumnya.
Tapi di tahun ini ada sesuatu yang cukup istimewa karena aku punya dorongan untuk melakukan sholat malam atau tarawih. Meskipun beribadah sendiri di rumah dan hanya 8 rakaat (aku tidak melakukan witir, aku senang.