Kematian dan kesedihan
Malam, 8 Juli 2025. Datang kabar kematian seorang yang aku kenal. Aku tidak kenal akrab tapi pernah beberapa kali bertemu. Dia seorang feminis perempuan Kamboja. Satu hal yang menyesakkan adalah terakhir kali aku bertemu, auranya berubah drastis dibanding 6 bulan sebelumnya. Aku mendengar kalau dia sedang burnout. Aku berasumsi kalau dia mendapatkan banyak bantuan karena dia seorang tokoh feminis yang banyak dikenal dan jaringannya di nasional dan internasional sangat luas.
Tujuh bulan sejak pertemuan terakhir, lalu aku mendengar kabar tentang dia lagi. Sepertinya dia berjuang cukup lama dengan depresi. Aku sedih sekali. Ketika bertemu dengannya di November 2024, aku merasa ada kesamaan burnout yang aku hadapi di tahun 2017 dan 2021. Bagian itu yang menohok. Kalau aku tidak cepat mencari bantuan dan mengambil tindakan cepat untuk istirahat dan mencari bantuan, aku mungkin akan berakhir sama. Pada posisiku waktu itu, aku sangat memahami jika bunuh diri menjadi salah satu pilihan. It’s very much make sense when your life doesn’t feel make sense anymore.
Lalu malam ini, 20 Juli 2025, aku menerima kabar duka lagi. Seorang feminis transpuan yang aku kenal sejak 2021, meninggal dunia. Aku tidak tahu penyebabnya. Terus terang, aku merasa takut untuk bertanya dan mengetahui jawabannya. Terakhir aku bertemu dengannya tahun 2022. Setelah itu, aku hanya mendengar kabar dari sesama aktivis tentang kondisinya. Dia keluar dari lembaganya kemudian berwirausaha tapi dia masih sering diundang dalam berbagai kegiatan aktivisme.
Aku merasa terkejut dan kehilangan karena ada harapan aku akan bertemu mereka di lain kesempatan dalam kondisi yang lebih baik. Aku merasa optimis. Berita kepergian ini seperti meluluhkan harapanku. Aku lalu bertanya ke diri sendiri, “Realistis gak sih aku berharap bahwa situasi ini dapat dihadapi dengan lebih baik? Jangan-jangan, kondisinya lebih berat dari yang aku hadapi sebelumnya.” Karena aku dapat mengatasi kondisi kritis tersebut, perlahan dan mungkin dengan tertatih, tapi aku berhasil melaluinya. Aku juga dapat keluar dari situasi tersebut dengan pemikiran bahwa kondisi tersebut dapat terjadi kembali, terutama kalau aku tidak merawat diri.
Agak berat untuk kehilangan dua orang teman dalam satu bulan. Berat untuk mengolah emosi dan merelakan kepergian mereka, terutama karena aku tahu proses burnout yang tidak ditangani dan didukung oleh orang tercinta itu berat.