Pengalaman-Saya

Berduka

Beberapa hari lalu aku berduka. Aku mendapat kabar duka tentang seorang aktivis perempuan Kamboja yang meninggal akibat depresi yang diderita selama 1 tahun terakhir. Aku pernah bertemu dan mengobrol singkat sekitar 4 kali dengan orang ini. Satu hal yang membuat kematiannya membekas adalah aku melihat perubahan drastis hanya dalam waktu 6 bulan.

Ketika aku bertemu dengannya terakhir kali di akhir 2024, aku seperti melihat diriku ketika mengalami burnout di 2021. Aku bersyukur mengambil langkah cepat dengan meminta cuti selama 1 bulan dan meminta seorang psikolog untuk mendampingi secara online setiap minggu. Selama rehat dan pemulihan, aku rajin menulis jurnal, berpuasa, dan tetap melakukan jalan kaki selama sekitar 4 kilometer per hari. Aku menjadi lebih “awas” dengan tubuhku secara fisik dan mental. Mengajak bicara dengan diri sendiri secara terbuka.

Aku tidak secara terbuka bertanya penyebab kematiannya karena aku takut mendengarnya. Aku dapat menduga dan dugaan itu sudah cukup. Aku tidak perlu mengkonfirmasinya. Aku merasa cukup mengetahui bahwa orang ini mungkin menyerah dengan kepenatan pikiran dan mentalnya. Kemungkinan dia sudah mencari dan mendapat bantuan tapi mungkin itu tidak cukup.

Kesehatan mental yang terganggu bukan berarti seseorang lemah atau kuat, tapi ada sistem yang menekan orang-orang kebanyakan dalam waktu yang panjang, menekan secara terstruktur, dan menstigma ketika orang-orang tersebut meminta bantuan. Dengan kata lain, kebanyakan orang mungkin dikondisikan untuk tidak sehat secara mental. Can you be mentally healthy in the middle of genocide, continuing wars, massive layoffs, repressive state, and low wages?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *