Pengalaman-Saya,  Pengetahuan-Saya

Menulis lisan

Menulis itu tidak mudah karena menulis berbeda dengan bercerita secara lisan yang biasanya lebih mengalir. Bercerita lebih banyak mengingat kembali, sementara menulis perlu proses refleksi, perlu menata emosi dan berdiam diri. Dengan cara itu seseorang mendapatkan koneksi antara pengalaman yang dulu dengan yang sekarang dan harapan di masa mendatang.

Menulis bisa jadi bagian dari spiritualitas. Spiritualitas yang dimaksud adalah menemukan kembali diri sendiri. Setelah melalui banyak proses kehidupan dan mengalami berbagai perasaan, baik itu senang, sedih, prestasi bahagia dan berbagai bentuk emosi lainnya. Menulis juga bagian dari mengingat kembali proses yang sudah dilalui dan menghargai perjalanan hidup. Termasuk mengapresiasi keberhasilan diri seseorang dalam menghadapi berbagai tantangan. Berada di saat ini, hidup dan bernafas pada saat ini, adalah bagian dari proses perjalanan. Kita bisa melalui berbagai arus dan pasang dari kehidupan, menghargai keterlibatan orang-orang yang membantu kita untuk bisa bertahan dan bergerak.

Ketika saya berada di pinggir pantai dan merasakan ombak air laut yang menyentuh kaki, rasanya luar biasa menyenangkan. Saya berusaha merasakan kebahagiaan untuk berada di saat ini. Apapun yang terjadi di masa lalu, saya dapat mengatasinya, saya dapat melaluinya. Saya ikut membantu orang-orang di sekitar saya untuk dapat mengatasi tantangan mereka dan mereka juga ikut membantu saya. Momen ini menjadi satu pembelajaran bahwa saya tidak pernah sendiri dalam berjuang. Selalu ada orang-orang baik yang mendorong saya untuk bangkit kembali. Proses ini menghibur saya untuk bisa tersenyum kembali. Selain itu, menguatkan saya untuk bisa bergerak dan mengelilingi saya dengan kekuatan dan kelemahan yang memulihkan.

Proses menulis yang dilakukan setiap orang merupakan bentuk perlawanan terhadap masalah yang dihadapi. Menulis juga merupakan bentuk penghargaan dan pengakuan terhadap perjuangan yang dilakukan sendiri dan bersama. Proses menulis menjadi kegiatan refleksi untuk melihat kembali rekam jejak perlawanan sehingga kita dapat belajar dari proses yang sudah dilalui.

Proses penulisan ini dilakukan di Papua Barat. Saya dikelilingi oleh alam yang luar biasa indah. Pasir putih dengan ombak yang tenang dan teduh. Saya tinggal di pondok yang dikelola oleh masyarakat lokal. Sebagian dari masyarakat bekerja sebagai pengelola rumah tangga dan petani, nelayan. Alam yang indah ini memberi banyak inspirasi untuk menulis. Saya tidak ingin alam yang indah ini terkontaminasi dan kehilangan daya tariknya. Alam yang indah ini adalah sumber penghidupan dari masyarakat lokal dan alam ini memberi banyak ketenangan untuk bekerja untuk berefleksi.

Keindahan ini memberi kekuatan yang berlipat ganda; memberi energi untuk saling terhubung dengan teman-teman aktivis lain. Sebagai aktivis, kami juga memerlukan ruang untuk beristirahat sejenak sambil mengingat apa yang sudah kami kerjakan. Kami perlu saling mengapresiasi apa yang telah kami lakukan dan saling mengkritisi dengan kasih sayang. Saya menyadari bahwa sebagai aktivis, ada banyak konflik yang harus kami hadapi. Baik itu konflik di dalam organisasi, di dalam keluarga, serta konflik bersama komunitas. Tidak dipungkiri kami juga memiliki konflik dengan sesama aktivis. Kami juga menghadapi konflik dengan pemerintah dengan militer. Sering kali konflik tersebut melelahkan secara psikis dan fisik dalam bentuk ketakutan, kecemasan, dan kemarahan. Sepertinya jumlah kami tidak banyak tapi kami terus berlipat ganda. Dalam situasi yang penuh risiko, setidaknya saya merasa perlu untuk saling menguatkan dengan berbagai cara.

Saya ingin meyakinkan diri sendiri bahwa gerakan ini tidak rapuh. Salah satu caranya adalah ikut berkontribusi dalam menuliskan pengalaman. Saya juga ikut mendorong teman-teman untuk menulis pengalaman dan perjuangan, karena tidak semua orang mengetahui tentang perlawanan yang dilakukan. Saya juga merasa bahwa apresiasi terhadap kerja pengorganisasian yang dilakukan perlu dimulai dari diri sendiri. Dimulai dari sesama kita. Saya merasa perlu mengapresiasi pengetahuan yang kami miliki dan pengetahuan yang akan kami dapatkan dari proses belajar ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *