Pengalaman-Saya

Kamar saya sendiri

Seorang sahabat bercerita tentang putrinya yang sangat senang karena akan segera masuk kuliah dan keluar dari rumah. Dia akan kos yang artinya dia akan memiliki kamarnya sendiri. Sejak lama, putrinya tidak memiliki kamar untuk dirinya sendiri. Aku sempat berpikir, “Oh, aku memiliki privilege.” Aku sulit membayangkan tidak punya kamar yang mewakili ruang privat sendiri.

Sejak kecil, sebelum masuk SD, aku dan adik laki-lakiku punya kamar sendiri. Masih satu tempat tidur besar tapi terpisah dinding dengan kamar orang tua. Ada satu ruangan tanpa pintu di bagian belakang yang kadang digunakan untuk kamar juga kalau di bagian itu kurang memberi privasi. Aku dan adikku berbeda satu tahun. Ketika dia masuk SMP, orang tua membangun kamar tambahan di bagian depan. Secara resmi, kami berdua punya kamar sendiri. Kalau kamar depan tidak ditempati, aku akan tidur di situ. Kamar di depan ini punya sirkulasi udara lebih baik dan pintunya bisa dikunci.

Ketika kelas dua SMA, keluargaku pindah ke rumah tingkat dua. Aku dan adikku menempati kamar di lantai dua. Kamarku memiliki sirkulasi yang lebih baik dan ada sederet tanaman bunga di depan jendela. I love it. Pemandangan dari jendela adalah jalan masuk ke rumah. Di lantai dua itu juga ada ruang tamu yang dibuat sebagai ruang belajar dan balkon untuk duduk-duduk santai.

Kamarku di rumah yang baru lebih besar dan aku suka menempel beberapa “karya seni”ku. Ruang privasi aku dan adikku lebih terjaga karena kamar kami memiliki kunci. Aku sangat suka kamarku. Aku sempat keluar dari kamar itu ketika bekerja di luar Jakarta. Kemudian kembali lagi ketika berhenti bekerja dan lanjut kuliah S2. Punya kamar sendiri itu sangat menyenangkan. Aku menghabiskan sangat banyak waktu di dalam kamar. Aku mendengarkan lagu, menulis puisi, lirik lagu, menggambar, menangis, marah, merenung di dalam kamar. Ibarat kamarku adalah istanaku. A room of my own.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *