Pengalaman-Saya

Hari Penuh Imajinasi

Kemarin adalah Hari Penuh Imajinasi karena aku masih membaca buku Dongeng Telepon karya Gianni Rodari. Hari ini aku menyelesaikan buku itu. Selamat!

Membaca buku ini terasa sangat membebaskan karena aku tidak perlu khawatir apakah ceritanya realistis atau tidak. Peduli amat! Manusia sejak lama hidup di dunia rasional dan non-rasional. Semakin banyak contoh peristiwa, pemikiran, dan kebijakan yang sangat tidak realistis. Jadi buat apa kita memaksa diri untuk realistis?

Buku ini mengingatkan aku bahwa selama ini imajinasiku benar. Kalau dulu gambar-gambar abstrak aku dicemooh orang tua, itu bukan salahku. Bukan salah mereka juga. Mereka melihat dunia dengan cara yang berbeda karena dipaksa keadaan. Bukan berarti cara pandang mereka benar, tapi itu yang membuat mereka mampu bertahan. Pasti sulit untuk melawan arus, apalagi sendirian atau merasa sendiri.

Aku akan lanjut dengan bacaan dari Mochtar Lubis, Jalan Tak Ada Ujung. Aku harus berimajinasi seperti apa rasanya hidup di tahun 1946. Hampir satu tahun setelah Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya dari Jepang, lalu Belanda masuk untuk melanjutkan proyek kolonial mereka. Ketika menghadapi kesulitan, rasanya hidup menjadi tidak berujung.

Aku suka buku Dongeng Telepon karena buku dan hurufnya besar. Maklum, aku sudah di atas 45 tahun. Berbeda dengan dua buku M. Lubis yang aku beli. Bukunya mungil dan tulisannya lebih mungil lagi. Sulit untuk membacanya. Penerbit seperti berusaha keras untuk mengurangi biaya produksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *