-
Hari Penuh Imajinasi
Kemarin adalah Hari Penuh Imajinasi karena aku masih membaca buku Dongeng Telepon karya Gianni Rodari. Hari ini aku menyelesaikan buku itu. Selamat! Membaca buku ini terasa sangat membebaskan karena aku tidak perlu khawatir apakah ceritanya realistis atau tidak. Peduli amat! Manusia sejak lama hidup di dunia rasional dan non-rasional. Semakin banyak contoh peristiwa, pemikiran, dan kebijakan yang sangat tidak realistis. Jadi buat apa kita memaksa diri untuk realistis? Buku ini mengingatkan aku bahwa selama ini imajinasiku benar. Kalau dulu gambar-gambar abstrak aku dicemooh orang tua, itu bukan salahku. Bukan salah mereka juga. Mereka melihat dunia dengan cara yang berbeda karena dipaksa keadaan. Bukan berarti cara pandang mereka benar, tapi itu…
-
Pertarungan pendidikan tinggi dan imajinasi
Begini. Dalam situasi tenggat tugas yang dekat ditambah dinamika pekerjaan, aku sulit berimajinasi. Situasi ini mengganggu karena aku suka berimajinasi dan bekerja. Mengerjakan tugas kuliah bisa dianggap sebagai pekerjaan, tetapi yang terjadi justru mengkungkung imajinasi. Sepertinya tugas menulis karya ilmiah ditakdirkan bukan untuk mengembangkan imajinasi. Karya ilmiah punya metode dan gaya sendiri yang mendisiplinkan penulisnya. Seharusnya aku tahu. Aku memang tahu tapi dalam paradigma di program studi sebelumnya, pengalaman sebagai salah satu bentuk pengetahuan sangat diutamakan. Penggalian pemaknaan diri dan komunitas menjadi refleksi peneliti sebagai manusia dalam kosmos. Ada “aku” di dalamnya yang berdialog dengan pengalaman orang lain. “Aku menemukan” melalui keterkaitan-analisis. Subyek penelitian menganalisis pengalaman mereka dan aku menganalisis…