Perjalanan-Saya

Fredy S dan masa puber

Tema Fredy S muncul di grup WhatsApp beberapa waktu lalu. Cukup ramai sampai ada rencana untuk membahasnya dalam diskusi tematik JALINTB. Aku menunggu waktunya karena buatku buku-bukunya mewarnai puberku.

Novel Fredy S membantu aku mengenali seksualitas. Ceritanya sederhana, mudah dicerna, menggunakan bahasa sehari-hari, dan sesuai dengan konteks. Satu buku bisa aku selesaikan kurang dari sehari. Gaya bahasa yang digunakan tidak berbunga-bunga atau penuh kiasan. Langsung ke makna sesungguhnya.

Satu lagi yang menurutku khas. Buku Fredy S ini selain ada yang baru, tapi sebagian besar dibeli pelanggan, termasuk aku di toko buku bekas. Ada banyak bukunya dijual di sana. Harganya murah, sangat terjangkau siswa SMP dengan uang saku yang minim. It’s a source of sex in the middle of no internet and no VCR access. It’s widely available, paling tidak di beberapa kota besar di Jawa.

Adakah bagian dari bukunya yang bias gender? Oh ya. Tapi itu bukan satu hal yang penting ketika aku sendiri tidak paham tentang seksualitas atau ketubuhan perempuan. Adakah peran seks yang perlu dikritisi? Iyalah. Apakah aku harus menulis cerita seks seperti Fredy? Tidak mudah menulis adegan seks yang dapat menstimulasi imajinasi seks dan menjalinnya dalam sebuah cerita dengan karakter yang berkembang. Di Fredy S, karakter tokoh sepertinya bukan perhatian utama dan kurang menunjukkan kompleksitas. Namun, bukunya seperti menjadi jendela bagi dunia yang sangat tabu di waktu itu.

Aku merasa perlu lebih banyak penulis yang bisa mengeksplor seksualitas dan segala kompleksitasnya dalam bahasa yang lugas dan jujur. Aku merasa aku belum bisa menulis seperti itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *