Petualangan Item
Original posting on https://forevernikn.wordpress.com/
Melepas kucing yang baru aku besarkan sekitar 4 bulan ternyata emosional. Bagi Klenting Hitam alias Item, mungkin membuat dia stres. Usianya sekitar 7 bulan. Sebagai anak yatim piatu di usia 3 bulan, aku mengadopsinya bersama 3 saudaranya. Dari 4 kucing, hanya Item yang bertahan sampai hari ini. Padahal dia yang berat badannya paling rendah, tubuhnya paling kecil, dan agak sulit patuh BAB di bak pasir.
Ketika aku keluar kota selama satu minggu, dia bab di lantai sampai 3x. Pipis juga di lantai. Aku bingung, biasanya dia mengerti. Suamiku sangat tidak suka dan minta aku mencari orang lain untuk merawat dia. Tentu bukan perkara mudah. Apalagi Item bukan kucing ras dengan bulu lebat & mata lebar. Penglihatannya buruk karena pernah kena chlamydia.
Sejak mengadopsi kucing, aku mulai mengikuti beberapa akun rescuer hewan. Dari sana, aku mengetahui lebih banyak informasi tentang kekerasan terhadap hewan termasuk tempat penitipan hewan sementara dan permanen.
Akhirnya aku memilih tempat penampungan hewan di Parung, Bogor. Aku menyerahkan Item secara permanen. Aku tetap bisa menjenguknya tapi rasanya tidak sama. Selama perjalanan dari rumah ke penampungan, Item mengeong sekitar 30 menit. Dia biasanya tidak mengeong karena dia kucing jalanan. Aku biarkan karena kalau aku keluarkan dari tas dan memeluknya, aku akan semakin susah berpisah dengannya.
Tempat penampungan ini mungkin seperti foster home atau rumah panti asuhan bagi manusia. Duh, bagaimana perasaan anak manusia dititipkan ke panti? Dari yang tadinya punya orang tua angkat, lalu dimasukkan di panti. Awalnya aku pikir dia akan punya banyak teman. Tapi namanya lingkungan baru, dia harus menyesuaikan diri dengan rumah baru dan kucing-kucing yang sudah lebih dulu berada di sana. Mereka bisa jadi ancaman daripada teman. Aku khawatir.
Pengelola rumah singgah mengatakan bahwa kucing baru akan ditempatkan di kandang selama proses penyesuaian. Item akan divaksin terlebih dulu karena di tempat itu bercampur dengan kucing lain. Setelah dia bisa menyesuaikan diri dengan tempat barunya, dia akan disteril. Tahap-tahap ini dilakukan karena setelah steril, kondisi kucing mengalami penurunan. Aku kepikiran.
Di angkot menuju Kota Bogor aku menangis. Sudah aku tahan tapi daripada sesak di dada. Di ojek online aku juga nangis. Gimana ini?
Aku harus menjenguknya setelah sterilisasi. Semoga pada saat itu aku ada di Bogor. Dalam seminggu terakhir, Item ditempatkan di luar rumah. Dia tidak lagi BAB di dalam rumah. Biasanya dia tidak akan berjalan jauh. Tapi ketika aku pulang, dia sempat menghilang. Aku khawatir dia ditabrak atau diperkosa jantan sekitar rumah. Aku yakin dia tidak berjalan jauh. Dia sangat hati-hati. Akhirnya aku temukan dia.
Semoga ini yang terbaik untuk Item, atau jalannya untuk mendapatkan orang tua yang lebih baik. Semoga petualangan hidupnya menjadi lebih indah.
Bogor, 22 Juli 2018