Ketika “apa kabar” terlalu abstrak
Menanyakan kabar seseorang dengan pertanyaan literal “apa kabar” adalah hal paling mudah. Mulut kita seperti terprogram otomatis untuk menanyakan hal ini karena sudah terbiasa. Masalahnya, pertanyaan itu sering dianggap basa-basi atau bagian dari sopan santun sehingga seringkali diabaikan atau jika situasi sedang galau, seseorang akan menjawabnya dengan senyuman getir.
Lalu aku menemukan beberapa pertanyaan alternatif yang lebih spesifik, tidak terlalu abstrak, sebagai pengganti “apa kabar?” Contohnya:
- Bagaimana kualitas tidurmu akhir-akhir ini?
- Apa warna hatimu hari ini?
- Apa tiga perasaan teratasmu hari ini?
- Apa saja pikiran yang terus berputar di kepalamu hari ini?
Aku teringat dengan pengalaman menulis jurnal saat melakukan pemulihan dan perawatan diri. Tidak mudah menulis jurnal karena aku terbiasa dengan emosi dasar seperti sedih, bahagia, kecewa, bangga, dan lain-lain. Proses menjelaskan dan menguraikan perasaan itu merupakan poin penting dalam menulis jurnal. Kadang bingung harus memulai dari mana. Selain memulai dari perasaan saat itu, aku bisa menulis di bagian tubuh mana aku merasa sakit dan bingung.
Aku bisa menambahkan beberapa pertanyaan:
- Kalau kamu bisa menggambar awan, warna apa yang akan kamu pilih?
- Apa dua hal yang membuatmu sangat khawatir saat ini?
- Lagu apa yang paling sering kamu dengarkan saat ini?
- Buku apa yang sedang kamu baca?
- Angka apa yang ada di kepalamu?
Refleksi diri bukan hal baru karena ketika kecil sampai remaja aku pernah menulis jurnal. Tetapi di masa SMP itu aku mulai jatuh cinta dengan puisi. Aku mulai menulis jurnal melalui puisi dan rasanya berbeda. Aku merasa kewarasanku lebih terjaga dengan menulis puisi. Apalagi belum ada media sosial yang mengganggu konsentrasi dan ikut mengganggu kewarasan.
Dalam puisi, satu bait bisa penuh dengan emosi dan interpretasi. Aku belajar untuk bermetafora. Aku belajar untuk menguraikan dan menuliskan emosi. Aku belajar membaca kembali emosiku dan merenungkannya.
Satu hal yang baru aku sadari setelah lebih dewasa dan berada di era yang lebih digital adalah saat itu aku juga belajar menulis dengan tangan. Pada waktu itu, bukan hal yang aneh, bahkan sangat wajar. Tapi kalau melihat situasi sekarang, menulis tangan di kertas, bisa jadi istimewa. Aku bisa melihat kembali tulisan tanganku di buku, terutama buku merah dengan gambar Hello Kitty di depannya. Atau ketika remaja, aku menulis di buku kuning polos, tanpa gambar. Aku tidak tahu apa warna dan motif dari buku tulisku juga ikut menggambarkan emosi dan imajinasiku saat itu.
Writing poem saves me! Asking questions save me!