Semakin sulit untuk menulis
Sesederhana itu yang aku rasakan. Mei 2024, genap aku bekerja selama 2 tahun di lembaga sekarang. Apakah ada banyak beban pekerjaan? Sepertinya tidak berubah drastis. Lalu kenapa aku menjadi sulit menulis? Waktu, masih ada. Tenaga, masih ada. Kreativitas, menipis.
Entah kenapa, aku baru menyadari bahwa menulis membutuhkan kreativitas. It was easy because I had so much anger. It was like a flood. Banyak membaca, mengamati dan berefleksi, iya. Kreativitas, hmm!
Aku tidak perlu inspirasi yang begitu wah. Kehidupanku sendiri adalah inspirasi untuk menulis karena aku menulis sebagai sebuah jurnal untuk menyusuri apa yang sudah aku lakukan. Ini salah satu cara agar aku bisa “in the present”, mengalami secara sadar.
Kenapa hari ini aku menulis? Karena jam dua tadi, aku sakit kepala. Biasanya ada dua alasan, entah tekanan darah rendah atau aku sedang burnout. Aku langsung pesan makan di luar dan minum parasetamol lalu tidur. Aku bangun dan sholat, lalu sakit perut. Niken, what is happening?
Sepertinya, ini analisisku sendiri, aku mudah burnout karena aku tipe orang yang menutup diri. Aku sulit bercerita ke orang lain. Itu salah satu alasan aku senang menulis. Bahkan menulis untuk “curhat” tidak melulu gampang. Aku perlu menguraikan berbagai emosi yang aku rasakan agar bisa menuliskannya. Aku perlu memahami masalah yang aku hadapi dan kenapa hal itu menjadi masalah.
Perutku lebih baik sekarang dan aku tidak pusing lagi. Mungkin karena efek parasetamol juga.