Pengalaman-Saya

Curhat Gen Z

Ini beberapa curhat Gen Z yang aku salin dari aplikasi Thread.

Sbnrnya yg kurg bgus ya umur 28 tahun msih mnjdi beban org tua dlam hal finansial, mknya sebisa mgkin di umur sgtu hrus sudh bertanggung jawab ke diri sndri minimal bisa membiayai diri sndri, brdiri di kaki sndri bukan brharap ke org tua trus. Enggak usah mikirin sukses apa enggak stidaknya bisa mngurangi beban org tua itu udah hal bagus kok .

Aku hanya mengubah kalimat di atas menjadi italic. Redaksinya tidak aku edit sama sekali atau anak sekarang akan menyingkat “samsek”. Semoga masih bisa dibaca walaupun perlu beberapa detik lebih lama. Kalimat di atas merupakan respon dari curhat orang muda berusia 28 tahun yang merasa belum memiliki pencapaian karena belum memiliki harta sendiri. Seperti di zamanku, ukuran sukses atau mapan seseorang masih diukur dari kepemilikan harta yang kelihatan secara fisik. Itu adalah kebanggaan buat diri sendiri dan orang tua. Komentar di atas menilai pencapaian terbesar adalah ketika seseorang mandiri. Kalau belum bisa beli rumah atau emas, minimal bisa menghidupi diri sendiri mulai dari makan, tempat tinggal, sekolah, komunikasi, dll. Kalau belum bisa punya rumah, bayar uang kos dulu. Lagipula, kalau ekspetasi masyarakat menjadi beban, justru tidak produktif untuk memotivasi diri.

Ada banyak komentar atau balasan dari netizen lain. Aku memilih tiga untuk dimuat di sini.

Sebenernya pencapaian ga melulu tentang aset atau karir sih kak, yg penting kamu happy dgn keadaanmu sekarang. Kalau ketemu temen2 bikin minder dan rendah diri mending gausah, tp kalau makin ter encourage ya gpp go for it

Ini balasan yang mengutamakan kesehatan mental daripada pencapaian material. Jiwa dan pikiran yang sehat adalah modal untuk masa depan. Penting banget untuk bisa mendorong diri untuk bangkit dan semangat. Aku sendiri dulu tidak pernah berpikir soal karir. Awalnya hanya ingin menjadi pustakawan. Lalu ingin pulih dari trauma psikis terkait kekerasan seksual yang membawaku ke dunia sekarang yaitu aktivis yang bekerja di lembaga non profit.

Minusnya di aku sekarang, belum bisa memaafkan diri sendiri 🙂 
Padahal aku sadar di usia yg hampir 25tahun ini hal” yg lalu bukan sepenuhnya salah aku, selalu mencoba positif thingking..Tapi i can’t…Balik tantrum, ngamuk sendiri, nangis kek bayi..Padahal aku punya nak bayi. Gini amat si paling bipolar, capek tau ga..

Komentar ini unik karena secara terbuka mengakui dirinya mengidap bipolar. Paling tidak, dia sadar dengan kondisinya. Di usianya yang muda, dia juga sudah punya anak sebagai tanggungan. It’s hard. Tinggi sekali harapan orang tua dan masyarakat ke orang muda.

Kalau aku kembali ke masa muda, aku juga tidak akan menduga aku akan sampai di tahap ini. Aku menjalani hidup secara intuitif dan selalu merasa tidak puas dengan apa yang ada. Aku tidak ingin menerima apa adanya. Aku seringkali terganggu kalau merasa terlalu nyaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *