Spotify family plan
Sebagai manusia ala kadarnya, aku mencari biaya termurah untuk berlangganan aplikasi. Salah satunya Spot*fy. Aku ikut grup yang anggota keluarga supaya mendapat akses “family plan”. Untuk 3 bulan, aku membayar 40 ribu. Ini masih masuk akal dan sepadan dengan kerepotannya.
Repot, karena setiap 3 bulan aku harus berlangganan lagi dan biasanya Spot akan mendeteksi “kebohongan” ini. Entah bagaimana caranya, pihak pengepul akun Spot bisa melewati hambatan. Kadang perlu waktu 2-3 hari supaya bisa login dan mendapat akses premium lagi. Ya, cari murah harus siap dengan risikonya.
Kalau untuk Netx, aku lebih baik membeli resmi. Sekitar 4-5 bulan aku sudah berhenti Netx karena mereka mendukung Israel. Terkait film, aku sudah punya alternatif Disney dan Vidio. Disney pendukung Israel juga tapi aku sudah terlanjur berlangganan 1 tahun. Jadi aku habiskan dulu. Rupanya ada kenaikan harga berlangganan juga jadi aku sepertinya tidak lanjut dengan Disney.
Berhubung risiko untuk kehilangan playlist cukup besar, aku mulai mengunduh lagu mp3 dari berbagai website. Dengan begitu aku bisa memutar lagu secara offline. Setelah ini, aku akan mulai mencari lagi lagu-lagu mp3 untuk diunduh. Jadi ingat ketika aku remaja, usia SMP, dan melakukan hal yang sama. Bedanya kalau dulu pakai kaset dan kita memesan daftar lagu yang disukai ke seorang bandar lagu. Kadang kalau tidak ada, aku akan merekam sendiri dari radio. Jadi aku punya perangkat audio yang bisa merekam dari radio. Paling sebel kalau penyiar memutus lagu di tengah jalan dengan berbagai kata ucapan atau iklan. The practice is still going on.
Ketika SD, SMP, SMA, aku tidak punya headset. Waktu itu belum jadi tren. Jarang sekali orang pakai headset atau earphone. Telepon genggam saja belum populer. Jadi biasanya aku akan letakkan radio dekat dengan telinga sambil tiduran. Ketika telepon genggam dikenal, kebanyakan belum ada lubang untuk headset. Jadi bayangkan senangnya aku ketika teknologi telepon berkembang dan aku bisa menggunakan headset.
Kalau memikirkan hal itu, jadi sadar “how far we go” sebagai manusia pengguna. Aku tidak merindukan masa itu, hanya bersyukur bisa mengalami dan melalui berbagai era.