Menjadi pustakawan
Seingatku sejak aku mengenal perpustakaan keliling di kelas 2 SD, aku bercita-cita untuk menjadi pustakawan. Waktu itu pemahaman aku tentang tugas pustakawan sangat terbatas tapi paling tidak aku akan dikelilingi oleh berbagai bacaan dan orang-orang yang senang membaca. Ide utama yang aku bayangkan dengan menjadi pustakawan adalah seseorang yang punya hasrat untuk terus membaca, mengumpulkan bacaan, belajar, dan membagikannya ke orang lain. Ide itu belum berubah.
Sekarang, ketika bekerja dengan posisi sebagai koordinator program, aku melihatnya sebagai jalan menuju pustakawan. Mungkin ini salah satu bentuk tugas pustakawan; mengorganisir dan berbagi pengetahuan dan kapasitas. Aku masih membayangkan pustakawan; aku ingin menjadi pustakawan seperti apa? Bentuk perpustakaan seperti apa dan bagaimana aku atau tim akan mengelolanya?
Aku ingin perpustakaan yang aku bangun tidak terbatas atau hanya diidentifikasi sebagai suatu bangunan. Perpustakaan tidak terasosiasikan di satu alamat fisik, kecuali untuk keperluan administrasi. Koleksi perpustakaannya juga tidak terbatas pada koleksi fisik tapi memanfaatkan koleksi yang tersebar di berbagai jaringan yang bisa diakses secara daring. Koleksi luring tetap ada dan tersebar di beberapa simpul atau titik yang bisa dipertukarkan dengan daerah lain.
Perpustakaan ini bisa bekerja sama dengan lembaga pemerintah, non-pemerintah, dan swasta jika memerlukan ruang fisik untuk berkumpul atau melakukan pameran. Perpustakaan merupakan ruang aman sebagai tempat berkumpul kawan-kawan dari kelompok minoritas dan membuka ruang diskusi yang egaliter terkait isu sosial yang mungkin masih dianggap tabu.
Perpustakaan akan memfasilitasi pelatihan terkait produksi pengetahuan dari komunitas marginal dan umum. Hasil pengetahuan tersebut dapat menjadi konsumsi publik berdasarkan persetujuan (consent) dari peserta, baik bentuk tercetak atau digital. Perpustakaan juga akan memfasilitasi pelatihan terkait keamanan digital, perlindungan kolektif, dan tema lainnya.