Pengalaman-Saya

Surat dari Gen X untuk Gen Z

Anakku, Milenial, Gen Z dan seterusnya, harap maklum ya dengan generasi ibumu ini. Kami sering menganggap kalian malas, kurang tangguh, mudah menyerah, tidak bisa fokus, kurang serius, dan lain sebagainya. Mungkin kami yang kurang peka.

Kalian aku anggap anak atau keponakan aku sendiri. Bagaimana tidak? Kucing liar yang ada di perumahan sudah aku anggap anak sendiri, apalagi kalian. Mereka masih liar, keluar masuk rumah sesuka hati. Kalau kalian sedang ada “badai” di luar rumah juga bisa kembali ke rumah.

Bagi kami, Gen X, tolok ukur kesuksesan berbeda dari generasi sebelumnya. Aku rasa sah kalau kalian mendefinisikan kesuksesan hidup dengan cara yang berbeda. Milenial dan Gen Z mungkin punya pemahaman yang berbeda tentang “berjuang” dan “mandiri”. Cara kalian “berontak” dari “kemapanan” juga berbeda. Kalau menilai dari sudut pandang Gen X, sepertinya banyak yang dilakukan Gen Z salah atau sangat tidak diharapkan. Padahal sebenarnya kami bingung dan tidak memahami kalian.

Bayangkan terkejutnya kami ketika mengetahui kalian meng-anjing-kan berbagai hal, termasuk orang. Berbagai kalimat dimulai dengan: anjing! Seorang kawan, begitu shock-nya sampai menilai kalian tidak beretika dan tidak sopan. Sumpah serapah, terutama ketika ada orang yang lebih tua, dianggap tidak santun dan sangat kasar. Anjing banget kan?

Kami berlagak paham apa yang kalian alami. Kami tidak benar-benar paham. Satu kejadian bisa dipahami berbeda. Aku di usia 25 tahun berbeda dengan aku di usia 40 tahun. Cara seseorang menyikapi suatu kejadian akan berbeda di era yang berbeda. Kami berharap kalian yang mengikuti cara kami.

Kami berharap kalian tangguh dan terdorong untuk mandiri seperti kami. Bahkan lebih baik lagi. Kami menjadikan diri kami sendiri sebagai patokan, rujukan, apalah. Kalau generasi kami melihat Gen Z, gemes rasanya! Ada anggapan bahwa kalian itu “sedikit-sedikit healing”. Maklumlah. Ketika kecil, kami tidak pernah mengalami pandemi COVID dan belajar daring di rumah. Dididik oleh ibu atau bapak yang sudah lupa dengan pelajaran SD dan SMP dan bingung dengan kurikulum terbaru, sampai kami hilang kesabaran. Kami hanya tahu sedikit tentang perundungan atau bullying dan kekerasan seksual. Jadi seringkali didiamkan. Kalau dilaporkan, paling masuk rubrik Pos Kota dan dieksploitasi sebagai kisah birahi. Paling tidak, zamanku begitu.

Kalau dipikir, eraku diwarnai dengan relasi cukup toksik. Ya, relasi negara dengan warganya juga toksik. Era Soeharto berjilid-jilid, lalu 3 kali ganti presiden dalam periode 5 tahun. Situasi politik dan ekonomi berpengaruh ke kami yang mencoba bertahan. Aku akan coba mendengarkan kalian. Tulislah surat ke ibumu ini.

Aku sangat paham kalau sebagian kalian memilih untuk buka usaha sendiri daripada jadi karyawan dengan gaji UMR atau bahkan di bawah UMR. Kalau punya pilihan, aku juga akan melakukannya. Aku perlu pengalaman dan modal, jadi dulu pun aku berusaha sabar polllll. Aku tidak bisa bayangkan di tahun 2023 ini, kalian masih dibayar 3-4 jutaan dengan 8-10 jam kerja atau lebih. Kemudian dapat supervisor yang sering marah-marah atau sensitif dengan berbagai kesalahan. Intrik dari teman kantor yang sama-sama miskin. Belum lagi lembur yang dibayar ala kadarnya. Ditambah waktu perjalanan pulang pergi 4 jam dan naik kereta listrik jam 6 pagi. Orang tua yang minta jatah uang belanja. Ya Tuhan! Lawan!

Tunggu dulu. Kamu harus berstrategi. Buat perlawanan yang terencana.

Pengalamanku tidak perlu jadi acuan, tapi sebagai perbandingan. Kalau baru lulus sekolah atau kuliah dan belum punya pengalaman bekerja, kerjalah dulu dengan orang atau perusahaan lain. Belajar berbagai hal: mulai dari cara menyusun kalimat email yang baik, mengelola folder di komputer, menjawab telepon dengan sopan, mengelola emosi, mengatasi teman yang sirik, mengatasi supervisor yang galak, mempelajari SOP perusahaan, mengamati relasi politik di perusahaan, menemukan kos dan tempat makan murah dan enak, dll. Jangan lupa laminating, scan, dan simpan ijazahmu dengan baik. Kalau usaha kalian tidak berjalan lancar, ijazah itu akan membantu. Selalu sedia rencana A, B, C, sampai G(ila). We never know!

Setelah bekerja dengan orang lain, biasanya orang lain akan memberi respon dan dari situ kamu bisa melihat kapasitasmu yang perlu diperkuat dan mungkin dikembangkan jadi usaha mandiri.

Salah satu hal penting yang perlu dipelajari dan dipraktikan adalah mengelola keuangan. Berapa pun penghasilan kamu, kelola dengan baik. Jangan meremehkan penghasilan; buat catatan supaya kamu tahu mana yang kebutuhan dan keinginan.

Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan. Tapi disambung lain kali. You know I love you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *