Pengetahuan-Saya

Kemelekatan yang tidak sehat

Aku ingin menulis tentang kemelekatan atau attachment terinspirasi dari dua kejadian beberapa minggu lalu. Sudah lama aku menyaksikan atau bahkan aku sendiri mengalami kemelekatan ini. Aku menulisnya sebagai peringatan ke diri sendiri.

Kita senang untuk melekatkan diri pada hal-hal yang dianggap penting atau memiliki prestise seperti peran, anak, model, identitas, organisasi, jabatan. Orang bisa memberi nama perasaan melekat ini dengan beragam label tetapi pada intinya sulit untuk menghadapi transisi dan perubahan. Status quo terasa familiar, memberi kita bentuk, kepastian dan stabilitas.

Satu hal yang membuat kemelekatan menjadi sulit dilepas ketika kita merasa “berkorban” dan berkontribusi sangat besar pada orang lain atau sebuah organisasi/perusahaan. Sama halnya dengan orang tua yang membesarkan anak-anaknya. Aku menghadapi relasi seperti itu juga dengan orang tua. Aku yakin mereka sangat mencintaiku. Tetapi perasaan tersebut kadang menjadi beban dan menakutkan. Dengan bentuk relasi yang ada, aku merasa lebih nyaman untuk menjaga jarak.

Aku menyayangi orang tuaku tetapi caraku mengekspresikan rasa sayang ke mereka berbeda. Aku punya kemelekatan dengan mereka, mungkin dengan tingkat yang berbeda.

Aku pernah membaca tulisan yang mengatakan bahwa manusia sangat takut kehilangan dan otak kita mendambakan keselarasan naratif (narrative coherence). Itu sesuatu yang normal. Namun, cara menyikapi “takut kehilangan” berbeda pada setiap orang. Salah satu yang pernah aku rasakan adalah upaya untuk “mengekang” dan “mengontrol”.

Berat ya menavigasi proses transisi, terutama ketika kita belum tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Merdeka dari rasa melekat itu luar biasa.

Aku jadi ingat tentang hari raya kurban. Aku pernah ditanya seorang teman dari Filipina tentang makna hari raya itu. Sebagian besar memahaminya sebagai hari “berkorban” atau mengorbankan satu hal/orang yang kita cintai. Tapi itu terdengar sadis. Lalu aku baca seorang penulis yang mengatakan bahwa momen Idul Adha mengandung pesan bahwa umat manusia harus melepas keterikatan dengan segala sesuatu, walaupun itu adalah anak yang kita cintai. Semua yang kita miliki dalam kehidupan ini hanya sementara.

Melepaskan bukanlah kelemahan. Seringkali itu langkah kunci dalam transisi. Bisa jadi hambatan dari kesulitan melepaskan sesuatu karena kita, secara tidak sadar, tidak sepenuhnya percaya dengan orang-orang di sekeliling kita. Atau bisa jadi, kita mengharapkan loyalitas dari orang lain sebagai timbal balik. Aku ingin berhenti di sini dulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *