Perjalanan-Saya

Makna politis dari rehat dan jeda

Ketika aku berencana untuk mengundurkan diri, kemudian mendapat informasi bahwa aku masuk dalam daftar PHK, aku berpikir tentang bagaimana aku akan menggunakan momen tersebut untuk rehat dan mengatur kembali ritme tubuh dan pikiran. Aku ingin mengoptimalkan momen ini karena selama sekian tahun bekerja dan kuliah, bahkan di momen tertentu melakukan keduanya, aku merasa lelah. Bahkan ada momen ketika aku merasa harus menyibukkan diri dengan bekerja tetapi aku tidak benar-benar menikmatinya atau tidak merasa “hadir di dalam prosesnya”. Hanya ingin sibuk supaya tidak diam dan merasa berguna.

Aku penasaran dan melihat ke KBBI daring untuk melihat makna kedua kata ini.
Rehat bermakna ketenangan; penghentian. Kata ini berasal dari bahasa Arab yang berarti merasa semangat; senang; bugar; tenang. Kemudian, jeda bermakna waktu berhenti (mengaso) sebentar; waktu beristirahat di antara dua kegiatan. Jika dirangkai, terlihat hubungan dari kedua kata ini. Ada kemiripan makna dari kedua kata tadi tapi aku melihat rehat bermakna lebih dalam karena menunjukkan tujuan dari jeda. Dengan berhenti sementara, diharapkan seseorang atau makhluk hidup mendapatkan kembali semangat dan ketenangan. Kata rehat bermakna lebih dalam dan menjelaskan apa yang aku lakukan saat ini.

Aku pernah bercerita di tulisan lain bahwa rehat bukan sesuatu yang mudah, terutama bagi seseorang yang terbiasa bergerak cepat. Rehat menurutku tidak benar-benar berhenti seperti halnya jeda, tapi menarik tuas rem perlahan dan menurunkan kecepatan. Seseorang masih “berjalan dan bergerak” tetapi lebih pelan. Tujuannya untuk menjadi lebih bertenaga dan bermakna. “Tenaga” yang aku maksudkan di sini tidak sebatas untuk bergerak cepat atau melesat lebih cepat tetapi menjadi lebih peka dengan kapasitas dan “suara” tubuh. Lebih penting lagi agar mampu mengatur ritme sehingga tidak boros tenaga atau menghabiskan tenaga ke sesuatu yang memang tidak bisa kita kendalikan.

Menjadi lebih bermakna juga berarti bergerak untuk mencapai suatu tujuan dan menikmati prosesnya. Frase terakhir ini bisa menjebak. Menikmati proses bukan berarti tanpa stres atau masalah tetapi mampu melihat pola masalah dan menemukan solusi. Caranya? Ya, dengan hadir sepenuhnya dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Aku tidak pernah benar-benar sendiri menghadapi suatu masalah. Apalagi kalau itu berhubungan dengan urusan lembaga atau organisasi.

Tulisan ini membantu aku memahami proses rehat. Salah satu alasan aku menulis ini karena kemarin bapakku mendorong agar aku tetap mencari kerja. Dia merekomendasikan pekerjaan yang tidak aku sukai dan bentuk dorongannya seperti mendesak. Oke, aku jadi sadar untuk melakukan rehat, aku perlu menjaga batasan. Ini keputusanku dan aku ingin semua menghargainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *