Perjalanan-Saya

Perjalanan ke Meksiko

Ini perjalanan paling jauh yang pernah aku alami. Salah satunya karena pascapandemi, tidak ada penerbangan dengan satu kali transit menuju Meksiko. Di tahun 2020, satu bulan sebelum pandemi, masih ada penerbangan Jakarta-Tokyo-Meksiko. Kali ini dari Jakarta menuju Dubai, lalu transit 2 jam saja di Barcelona sebelum ke Meksiko. Penerbangan kembali akan mengambil rute yang sama.

Penerbangan berangkat sekitar 28 jam dan penerbangan pulang sekitar 25 jam. Rute paling lama adalah Barcelona-Meksiko City yaitu hampir 13 jam. Jadi selama penerbangan, pekerjaanku adalah mengecek “remaining time to the destination”. Selama rute Jakarta-Dubai, aku bisa mendapatkan super economy dengan legroom yang lebih luas tanpa biaya tambahan karena aku check-in pas 48 jam sebelum keberangkatan dan aku mendaftar sebagai skywards member. Sebelum berangkat, aku menonton beberapa tayangan YouTube dari para traveler internasional. Aku merasa lebih siap.

Rute Dubai-Barcelona-Mexico City, aku mendapat seat biasa. Not good. Salah satu yang membuat sengsara karena aku kondisiku sedang tidak sehat. Aku flu, batuk, dan agak demam, tidak ideal melakukan perjalanan jauh. Apalagi jika terbang, penumpang berada dalam ruang tertutup cukup lama dengan banyak orang. Sebagian besar tidak menggunakan masker wajah. Karena aku pakai masker, bagian belakang telinga juga terasa agak sakit.

Ketika mendarat di Barcelona, telingaku sakit. Menurutku ada pengaruh dari flu juga. Setelah mendarat di Mexico City, aku perlu penyesuaian. Aku bisa menukar uang tapi dengan rate yang tidak bagus. Tapi menurutku lebih baik karena itu hari Sabtu sore dan dengan kondisi yang lemah, aku tidak akan bisa keluar hotel untuk mencari money changer. Ini juga keputusan baik karena besoknya, hari Minggu, aku harus ke apotek beli obat dan mereka hanya menerima Peso.

Cuaca di Mexico City ketika mendarat sedang, tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas. Tapi hari ini, ketika aku keluar untuk membeli obat, aku kedinginan. Ketika aku cek, 19 Celcius. Dengan suhu ini aku sudah kedinginan.

Sampai di hotel, aku memulai ritual perjalanan. Buka koper dan menyusun pakaian serta keperluan lain. Lalu aku merendam baju di wastafel menggunakan shampoo hotel dan mandi. Setelah mandi, aku kucek pakaian dan bilas. Selanjutnya menjemur pakaian di beberapa bagian yang bisa digunakan. Aku optimis semua pakaian bisa kering dan they are! Aku bangga dengan diriku sendiri.

Aku makan pakai bubur sachet yang aku beli di Bogor. Aku bawa 2 bungkus bubur dan 2 mie instan. Di pesawat, aku juga mengumpulan beberapa snack yang tidak habis aku makan. Rupanya di kamar hanya ada coffee maker, bukan electronic jug. It’s okay, I can use whatever available. Setelah makan, aku minum obat. Kepalaku sakit sekali dan terasa demam.

Pagi sekali, aku bangun dan baru ingat punya asuransi perjalanan. Aku cek dan ternyata mencakup konsultasi kesehatan. Aku pakai untuk teleconference dan sangat bermanfaat. Tapi aku harus membeli obat sendiri. Hari Minggu tidak banyak apotek yang buka. Aku ke mal terdekat berjalan kaki. Alhamdulilah ada yang buka. OMG, harga obatnya mahal. Jauh lebih mahal dibanding di Bogor. I need to buy them anyway. This remind me to check in with the doctor before any travel and bring the medicines.

I feel better. Not so much headache and fever, the sore throat and coughing are staying. But I like the optimism of Assist Card operator, the travel insurance company, that if I take the medicines prescribed, by tonight I will feel much better. I need some convicing.

Bapakku berpesan untuk mengirim foto-foto selama perjalanan dan di Mexico City. Itu masalahnya. Aku bukan orang yang suka dan pandai mengambil foto. I don’t know what pictures to take. If I take them, they don’t come good. I just need to be healthy again.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *