Pengalaman-Saya

Menstruasi yang membuat frustasi

Menstruasi tanpa dibumbui doktrin agama sudah berdampak ke tubuh perempuan. Setiap bulan perempuan mengalami pre-menstrual syndrom dengan berbagai wujud: fisik dan psikis, itu pun tetap dituntut untuk bekerja yang mencakup domestik, sosial, dan produktif. Menstruasi tanpa tafsir agama tentang darah dan organ reproduksi sudah berat. Bagi perempuan yang percaya pada salah satu agama, dalam hal ini Islam, menstruasi bisa membuatnya lebih frustasi.

Frustasi karena tafsir agama Islam, dan beberapa agama lain, meminggirkan ketubuhan perempuan. Ada tafsir yang tidak membolehkan perempuan mens masuk ke rumah ibadah, tidak boleh berpuasa, tidak boleh berpuasa, tidak boleh membaca Quran, dsb. Di kondisi ini, perempuan memiliki pilihan terbatas:

  • menjadi pengikut setia dan menginternalisasi tafsir tersebut sehingga berakhir “membenci” tubuh dan anatomi perempuannya,
  • menjadi pengikut kritis dengan tafsir berbeda untuk “mendamaikan” ketubuhan, keyakinan, dan nalarnya,
  • tidak menjadi pengikut dan “bebas” menentukan tafsir menstruasi sehingga tidak menimbulkan konflik di dalam dirinya.

Pada dasarnya, tanpa “direcoki” agama, pengalaman menstruasi sudah penuh dengan konflik. Asumsi ketuhanan secara umum, terutama agama Abraham melihat tubuh perempuan sebagai kodrat dan hukuman. Beragama secara kritis dianggap dilematis.

Membangun argumentasi kritis juga beragam. Perempuan bisa mengkritisi tafsir agama, tafsir budaya yang sering beririsan dengan tafsir agama, atau menafsirkan praktik peminggiran sebagai keleluasaan. Dulu aku juga merasa kesal dan tidak adil jika harus “membayar” utang puasa. Kenapa? Karena keyakinan bahwa darah menstruasi kotor sehingga perempuan menstruasi haram berpuasa dan berpuasa di luar bulan Ramadhan dirasa merepotkan. Suasana puasa di bulan Ramadhan dan di luar Ramadhan juga berbeda. Belum lagi kalau sedang menjalankan ibadah haji. Perempuan mens tidak boleh sholat sehingga perempuan merasa “rugi” jika menempuh perjalanan jauh ke Mekkah tapi tidak bisa sholat dengan tekun.

Keyakinan terhadap berbagai nilai itu “melemahkan” rasa percayaku dengan konsep “ibadah”. Sekitar 5 tahun lalu aku mendengar seorang teman yang menyampaikan bahwa ada tafsir yang mengatakan bahwa perempuan mens masih bisa berpuasa jika dia merasa sehat, tapi tidak bisa sholat. Ini informasi baru. Tapi sejak kuliah, aku mendamaikan keyakinan dan nalarku. Misalnya, ketika aku mens aku kadang masuk ke rumah ibadah, baik itu di teras, pelataran sampai ruang sholat. Ketika mens, aku tidak berpuasa dan sholat dan tidak merasa kesal dan rugi karenanya. Aku tetap bisa membaca surat yang biasa aku baca ketika sholat dan dengan kondisi kram perut di awal mens, aku justru tidak merasa sehat dan nyaman kalau dipaksakan puasa. Entah karena usia, aku menjadi orang yang “malas” berkelahi dengan sesuatu yang menurutku “tidak perlu”.

Keputusan itu pun melewati perjalanan dan diskusi dengan diri sendiri yang panjang. Aku punya privilege berupa ruang dan momen untuk melakukan apa yang kupercayai. Aku tidak ingin menstruasi dan agama menjadi beban. Keduanya kadang secara fisik sudah berat. I just want to have fun with both of them; while I can. Because I am in my perimenopause moment. So…yeah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *