Telapak tangan yang lemah
Sekian lama telapak tangan ini kuanggap kuat. Walaupun tidak seperti itu. Aku pasti lahir dengan telapak tangan yang menggenggam kuat apapun yang dalam pegangan. Aku tidak ingat tapi aku sering mengamati itu di bayi. Kuat memang untuk ukuran seorang bayi. Hari ini aku belajar bahwa kurva kekuatan telapak tanganku berubah.
Dalam satu hari aku mengalami dua kejadian hampir sama. Aku menjatuhkan kotak makanan yang aku pegang dengan satu tangan. Satu kejadian terjadi dengan telapak kanan dan satu dengan telapak tangan kiri. Kedua kotak makanan plastik itu jatuh dan isinya berhamburan. Aku terheran. “Kenapa? Ada apa ini?” aku tanya dalam hati. Kondisi itu memengaruhi suasana hatiku. Aku jengkel tapi aku tidak berhenti penasaran.
Saat kejadian kedua terjadi, aku langsung paham. “Oh, telapak tanganku melemah. Mulai sekarang, aku harus memegang sesuatu dengan dua tangan atau memeluknya ke dada.” Aku menyadari bahwa keduanya terjadi ketika aku memegang sesuatu setelah bangun tidur. Mungkin saat itu ototku masih belum sadar. Tapi aku perlu berjaga. Bukan tidak mungkin telapak tanganku memang melemah. Aku harus melatihnya kembali. Seingatku, jariku juga lemah untuk digunakan kalau aku menggunakannya setelah bangun tidur. Tapi setelah sadar, aku bisa membuka tutup botol.
Aku berusaha menenangkan hati. “My body is not the same. The strength I have in the morning is different with one I have in the evening. It might have to do with age and energy scale. I have to be ready to this.” Aku menua, bisa jadi secara fisik lebih cepat dari pada psikis. Kadang keduanya berjalan beriringan. Jika aku tidak bisa menerima posisi ini, emosiku juga akan terganggu.