Menyelesaikan sesi coaching
Pasca-PHK aku mendapat 5x sesi coaching yang ditanggung oleh lembaga. It was a blessed to do it. Jadwal coaching sekali dalam sebulan dan ada latihan yang ditawarkan untuk dicoba. Sebagian besar latihan yang diberikan berguna. Tidak musti dilakukan tiap hari, sebisanya.
Sesi coaching ini sangat bermanfaat tapi setelah 5x sesi aku merasa lelah. Aku senang karena sesi ini sudah selesai. Aku ingin beralih ke konseling dengan psikolog untuk bulan depan. Aku merasa proses diskusi dengan profesional sangat membantu proses refleksi. Biasanya aku melakukan ngobrol dengan diri sendiri. Aku merasa ada yang kurang.
Proses coaching kadang melelahkan, terutama ketika aku sedang merasa lelah. Lelah di sini secara fisik dan psikis. Kadang aku akan “memaksa” diri untuk tampil di sesi coaching karena aku ingin menemukan alasan kenapa aku lelah. Ada satu goal yang disepakati di awal yaitu aku ingin menjadi sosok yang lebih jujur dan spontan. Oh tidak, itu sulit. Semakin “people pleasing” aku, semakin sulit aku jujur.
Aku merasa kebanyakan dari kita merasa “tidak jujur” untuk kebaikan adalah normal dan baik. Tapi aku tidak merasa baik-baik saja. Aku menghargai diriku sendiri ketika berani mengatakan bahwa ada yang perlu berubah. Perubahan tidak bisa dicapai secara acak tapi harus disengaja dan direncanakan. So yeah, I am unlearning many things.