Stereotipe menyesatkan
Aku sudah akrab dengan berbagai berita tentang praktik kolonialisme dan genosida terhadap warga Palestina. Awalnya mendengar berita di TV, membacanya di Kompas, kemudian ketika kuliah dan mengikuti tarbiyah, isu hak Palestina juga sering dibicarakan. Sayangnya, selama tarbiyah, Yahudi dilihat sebagai etnis yang memiliki karakter buruk. Jadi segala macam Yahudi adalah buruk.
Sebenarnya ketika mengkaji Al-Qur’an dan hadis, budaya dan karakter etnis Arab juga digambarkan buruk. Tapi karena Nabi Muhammad berasal dari suku tersebut dan sebagian besar orang Arab adalah muslim, maka karakter mereka tidak seratus persen buruk. Dalam tarbiyah, mereka tidak hanya menjelekkan warga Israel tetapi secara khusus etnis Yahudi. Ketika pengajian, aku merasa tidak nyaman ketika satu karakter suatu etnis digeneralisasi sebagai sosok yang baik atau sebaliknya, sosok yang buruk. Menurutku cara tersebut tidak membantu perjuangan warga Palestina.
Dalam tarbiyah yang pernah aku alami di akhir 1990an sampai awal 2000, kolonialisme warga Eropa di tanah Palestina direduksi menjadi konflik agama, antara Islam dan Yahudi. Alhasil perjuangan warga Palestina tidak mendapat dukungan signifikan dari agama lain yang mayoritas dan dari penganut Yahudi yang pernah mengalami genosida. Mungkin itu setting-an dari Israel tetapi banyak muslim yang terpengaruh dengan narasi tersebut. Perjuangan Palestina seperti tidak banyak kemajuan atau maju mundur.
Salah satu praktik genosida yang menyakitkan untuk aku dengar adalah penangkapan dan pemenjaraan anak-anak, baik dengan atau tanpa proses hukum yang adil. Aku jadi teringat dengan sekolah asimilasi suku asli di Amerika Utara dan di Australia. Anak-anak disiksa melalui proses integrasi ke budaya Eropa, dilarang menggunakan bahasa dan budaya etnis mereka, dikurung bersama anak-anak suku asli lain, sementara anak-anak Palestina disiksa melalui interogasi militer dan dipenjara selama bertahun-tahun.
Sekitar dua tahun lalu, perjuangan Palestina mencapai babak baru. Hal ini terjadi karena akses terhadap teknologi TIK dan publikasi suara warga Palestina di media sosial. Namun tidak bisa dipungkiri, dukungan yang lebih besar dari masyarakat internasional, terutama di Eropa dan AS yang non-muslim, merupakan aspek penting. Narasi yang disampaikan tidak lagi tentang konflik antar agama tapi benar-benar kolonialisme dan genosida. Perjuangan warga Palestina adalah klaim terhadap tanah dan sumber daya yang diambil oleh pendatang dari Eropa dan dari wilayah Timur Tengah.
Aku punya harapan besar bagi perjuangan warga Palestina. Terutama dengan aksi boikot yang semakin meluas. Aku berdoa agar semesta bekerja untuk mendukung kemerdekaan Palestina.