The Invisible Hands
Jadi tahun lalu Donald Trump terpilih kembali sebagai presiden AS. Kalau di periode pertama aku gak habis pikir, di periode kedua ini aku seperti menyerah dengan logika warga AS. “Gebrakan” Trump setelah dilantik kelihatan tancap gas. Lompat ke gigi empat dan bulan lalu masuk gigi lima. Mulai dari departemen efisiensi yang memecat banyak pekerja Federal sampai melakukan perang tarif ke seluruh dunia, termasuk sekutu AS.
Kebijakan AS untuk terus mendukung Israel melakukan genosida rakyat Palestine juga lebih luas. Kebijakan imigrasi yang ketat sampai deportasi penduduk dan warga negara AS terkesan gila-gilaan. Sepertinya bukan aku saja yang mencurigai kalau ada tangan-tangan tidak terlihat yang mengendalikan langkah Trump. Langkahnya tidak main-main dan bikin shik shak shok. It’s troubling and painful to watch. Aku merasa, “Ini main sikat. Dia akan habisin semua orang!”
No empathy. A lot of theatrical moves. Suck all attentions. Drive people nuts. Bring tension all over the place. Create panic in different places and institutions. Disorient the mass. Let’s do it!
Ada beberapa nama yang muncul tetapi nama-nama ini pun sepertinya punya bayangan di belakangnya. Aku menyayangkan dan marah dengan banyaknya korban yang sudah dan akan berjatuhan. Aku pun bisa menjadi korban baik langsung maupun tidak langsung. Aku gamang tetapi harus terus berjalan.