Air
Beberapa bulan ini, aku bangun dini hari untuk mencuci karena air kran keluar deras pada dini hari. Di Jam 9 malam, air sudah keluar tapi biasanya kurang kencang dan mesin cuci aku yang otomatis ini protes alias berhenti beroperasi. Sejak awal punya mesin cuci, aku memang mencuci dan menjemur sendiri agar ketika PRT datang, baju sudah kering dan siap disetrika. Ya, aku masih mensetrika baju.
Selama tiga bulan terakhir, air bersih jadi kendala di perumahan di Kota Bogor. Mungkin karena musim kemarau tapi seingatku di tahun-tahun sebelumnya tidak separah ini. Aku sudah tinggal di perumahan ini selama hampir 6 tahun. Ibu-ibu lain juga mengeluhkan hal yang sama. Apalagi kalau anggota keluarga lebih dari dua orang, punya usaha, atau sedang memperbaiki rumah. Otomatis kebutuhan air menjadi lebih tinggi.
Ada beberapa rumah yang memasang toren atau penampung, termasuk pasang pompa air, dan sebagian kecil membuat sumur. Bikin sumur di perumahan ini cukup mahal karena perlu menggali sangat dalam yaitu 30 meter dan biayanya 15 juta. Berhubung di rumahku hanya dua orang, air PDAM masih memadai. Padahal tarif PDAM naik sejak awal tahun. Kerasa banget.
Di Pakis, Kab. Malang cukup parah juga. Rumah itu kosong sejak Juni dan setiap bulan aku masih bayar PDAM sebesar 46 ribu. Bingung! Semoga dalam waktu tidak lama rumah itu laku dengan harga wajar. Merawat rumah lebih sulit daripada merawat tanah. Kalau sudah terjual, rencanaku adalah membeli tanah.