Pengetahuan-Saya

Bunuh diri

Aku merasa tidak nyaman membicarakan tentang dorongan bunuh diri karena stigmanya sangat kuat. Beberapa tahun lalu seorang teman perempuan mengeluhkan bahwa dia merasa tidak mendapat dukungan yang diperlukan dari teman-teman di lembaga terkait dorongan bunuh diri yang dialami. Aku berefleksi dan sepertinya aku sendiri tidak memahami tentang bunuh diri dan cara menyikapinya.

Ketika SMP aku pernah merasa ingin melakukan bunuh diri. Aku membayangkan diri sendiri melakukan bunuh diri dengan mengkonsumsi obat atau semacamnya. Perlahan bayangan atau dorongan itu berkurang. Sepertinya aku merasakan dorongan itu karena merasa sendirian, tidak ada yang dapat memahami pikiran dan situasiku, dan tidak punya ruang aman untuk bercerita dan mengurai berbagai tekanan yang aku alami. Aku tidak merasa putus asa tapi merasa kecil dan tidak berarti.

Di awal bulan ini, aku ketemu suatu akun Instagram bernama idontmind yang di salah satu postingnya membicarakan tentang bunuh diri. Di satu sisi aku merasa bunuh diri bukan sesuatu yang salah karena aku merasa di satu titik dan kondisi, bunuh diri menjadi satu hal yang diinginkan dan merupakan hak seseorang. Aku tidak sepenuhnya setuju dengan kalimat “you have the power to help to save a life” karena selama keinginan itu masih muncul dan kondisi yang menjadi latar belakang tetap ada, orang tersebut akan mencari cara untuk mengakhiri hidupnya. Life is not kind to some people.

Di sisi lain, aku memahami bahwa bunuh diri merupakan topik yang tabu dan penuh stigma. Apalagi ketika dorongan bunuh diri tersebut dialami oleh transgender atau kelompok marginal. Semakin tabu lagi. Jadi satu hal yang penting untuk paling tidak membicarakannya dan membongkar cara pandang diri sendiri tentang bunuh diri.

Seperti yang aku ceritakan, aku awam dengan topik bunuh diri sehingga aku merasa powerless dan merasa tidak bisa membantu orang lain yang mengalami dorongan ini. Dalam postingan IG tadi, aku mendapat beberapa informasi yang mungkin membantu. Ada kalanya perlu dikritisi juga tapi sebagai upaya untuk menjadi less judgmental and less kind, aku belajar.

Pertama, terbuka untuk bertanya. Pertanyaan yang bisa diajukan adalah, “bagaimana aku bisa membantu kamu?” atau “Apa yang kamu butuhkan saat ini?”. Ketika orang tersebut menjawab, simak dengan baik atau kata lainnya “listen”. Dengarkan cerita dan alasan di balik dorongan bunuh diri. Tidak perlu menawarkan sebuah solusi.

Kedua, temani untuk menciptakan perasaan aman. Kadang yang diperlukan adalah merasa tidak sendiri alias ditemani atau didampingi. Jika memungkinkan, kita bisa mencari tahu apakah ada pengalaman atau upaya bunuh diri yang dilakukan sebelumnya. Satu hal yang aku refleksikan ke diri sendiri setelah membaca beberapa tulisan adalah kita tidak bertanggung jawab atas hidup atau matinya orang lain. Ketika orang tersebut bunuh diri, ada kalanya kita akan menyalahkan diri sendiri. Setuju bahwa kita perlu mendukung orang-orang yang sedang kesusahan dan mengalami pergulatan batin atau kekerasan fisik dan psikis yang hebat. Sesuai dengan saran yang aku baca di komentar, penting juga menyadari jika kamu tidak memiliki kapasitas untuk menolong orang tersebut, tetapi menyarankan agar dia mencari pertolongan ke lembaga atau orang lain yang memiliki pengalaman dan kapasitas tentang persoalan yang dihadapi.

Jadi tahap ketiga adalah membantu orang tersebut mendapatkan atau mengakses pertolongan dari lembaga atau orang yang lebih mumpuni. Kalau sulit mendapatkannya di sekitar tempat tinggal, mungkin merujuk ke lokasi lain yang agak jauh. Ini memang memerlukan tenaga dan biaya.

Keempat, mengecek kondisi orang tersebut secara rutin untuk mengetahui perubahan yang terjadi. Bisa dengan menelepon, mengirim pesan suara atau teks, dan mengajak bertemu jika memungkinkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *