Pengetahuan-Saya

Hujan di pertengahan Agustus

Malam ini hujan deras. Bau tanah menguar di udara. Aku bahagia. Setelah dua atau tiga bulan panas terik dan kualitas udara di Jakarta dan Bogor berada di titik kritis, akhirnya turun hujan. Hujan sekitar 30 menit dan rasanya memuaskan dahaga.

Hujan ini berkah karena pemukiman yang mengandalkan air tanah merasa kesulitan air bersih. Aku yang mengandalkan PDAM pun mengalami hal yang sama, air yang keluar dari kran di pagi sampai siang hari kecil. Aliran air kencang setelah jam 7 malam. Itu baru satu hal.

Hal lain yang menjadi isu kesehatan berat adalah kualitas udara di Jabodetabek yang mengkhawatirkan. Masalah semakin kritis karena media mainstream tidak menganggap tingginya polusi udara di Jabodetabek sebagai suatu masalah. Sampai akhirnya Presiden Jokowi mengalami masalah pernapasan selama satu minggu. Tali temali masalah air dan udara semakin terasa personal dan sistematis. Mungkin karena aku semakin terpapar dengan isu ini dari pekerjaan.

Lalu ada yang lebih seru. Pemda DKI dan dinas perhubungan menawarkan solusi masalah polusi dengan mengkampanyekan kendaraan listrik. Bahkan ada langkah konkrit memberikan subsidi bagi pembelian kendaraan listrik. Dari banyak analisis, polusi udara di Jabodetabek yang sangat tinggi hanya sedikit yang disumbang dari kendaraan bermotor bahan bakar fosil. Kontribusi terbesar dari PLTU berbasis batubara. Mungkin merasa tidak bisa mengeluarkan kebijakan mengatur PLTU, jadi cari kesalahan lain.

Apalagi tambang nikel sedang gencar di Indonesia sebagai bahan baterai. Produsen kendaraan listrik tentu ingin membuka pasar menggunakan berbagai isu. Siklus melukai diri sendiri sudah terbentuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *