Pengalaman-Saya

Thrifting

Aku mau bercerita tentang thrifting. Aku mulai melakukan thrifting ketika tinggal di Jogja tahun 2017. Istilah di sana awul-awul karena calon pembeli harus meng”awul-awul” atau mengacak-acak baju bekas untuk mencari pakaian yang cocok dan masih bagus. Harga per potong murah, 10-20 ribu. Untuk jaket yang masih bagus bisa 30 ribu. Usaha ini sempat meredup. Kemudian sekitar 2021 populer lagi sampai di tahun 2022 media dan publik membahas tentang Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 40 Tahun 2022 tentang pelarangan jual-beli pakaian bekas impor.

Aku membeli pakaian bekas atau thrifting di media online seperti Carousell atau datang langsung ke toko. Di Bogor ada beberapa tempat kecil-kecil seperti di Hypermart, BTM, Plaza Jembatan Merah. Sepengetahuanku tidak ada thrift di Botani Square karena pakaian bermerek pun sering diskon. Kisaran harga 25-100 ribu tergantung merek dan kondisi pakaian.

Aku pernah ke pusatnya thrift di Pasar Baru, Jakarta Pusat. Harga di sana lebih murah 15-35 ribu tapi susah sekali cari yang cocok. Akhirnya aku beli yang celana dan jaket masing-masing 50 ribu tapi aku kapok karena perlu waktu yang sangat lama untuk mencari pakaian dengan kondisi bagus dan cocok di badan. Lebih baik ke toko dengan harga agak mahal sedikit tapi sudah diseleksi.

Thrifting tidak sebatas pakaian. Aku paling suka thrifting sepatu. Zaman OLX masih populer, aku pernah membeli sepatu Birkenstock hitam 125 ribu. Lalu setahun lalu aku membeli sepatu Birken putih 90 ribu. Keduanya nyaman dipakai karena yang paling aku suka dari Birken adalah sol sesuai bentuk tapak kaki, wide atau broad foot (tidak lancip di bagian depan), dan bagian luarnya kuat dan tidak licin. Tahan lama dan karena salah satu tapak kakiku ada bunion, sangat nyaman. Jarang sekali aku sakit karena pakai sepatu Birken.

Balik ke soal pelarangan thrifting, ada banyak pro kontra di media. Kayaknya tidak kebetulan kalau minggu lalu aku ke Kota Baguio di Filipina. Kota ini mirip di puncak dengan hawa yang lebih sejuk dibanding Manila. Rupanya di sana terkenal dengan thrifting atau disebut night market. Penjual thrifting disiplin karena mereka hanya bisa membuka toko atau lapak sejak jam 9 malam sampai dini hari. Jadi sebelum jam 9 malam mereka akan berjejer di trotoar dengan peralatan mereka. Jam 9 mereka sudah memajang pakaian. Menurutku bagus juga diatur seperti itu daripada melarang.

Aku mengamati sebagian dari mereka adalah muslim Filipina yang banyak bermukim di Baguio atau Manila. Tidak banyak dari mereka yang bisa berbahasa Inggris tapi soal harga mereka bisa. Aku membeli sebuah jaket North Face yang menurutku bagus. Lagi-lagi, harus jeli dan tidak asal beli. Membeli jaket, nomor satu yang perlu dicek adalah zipper atau restleting. Kalau susah dibuka atau bahkan macet, tinggalkan. It’s not worth the time and money. Lalu ada satu peserta yang punya jaringan pakaian bekas. Aku beli dua. Aku menghabiskan 200 ribu untuk tiga pakaian. Good bargain menurutku.

The thing is: I am happy. I like them. I wear them. They still have longer life span than being put as a waste. They are not waste. Used but not a waste.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *