Pengalaman-Saya

Gaji pekerja dan penghargaan

Aku pernah bekerja di sebuah LSM yang sekretariatnya berada di Jakarta. Aku bekerja jarak jauh. Tipikal lembaga dengan mimpi besar dan anggaran terbatas. Lagipula tren bekerja di masa depan, waktu itu aku mulai tahun 2008, lebih menekankan pengorganisasian secara virtual. Belakangan ini ada rencana untuk merekrut pekerja. Ada sebagian orang yang menyebutnya pekarya, tapi bagiku dengan menyebut pekerja bukan berarti mengurangi nilai aktivisme tapi menekankan bahwa berada di LSM berarti kamu bekerja dan perlu dihargai secara profesional seperti layaknya pekerja.

Aku penasaran dengan gaji yang diharapkan dan menjadi standar di kalangan anak muda milenial. Sebagai informasi awal, UMP atau UMR DKI Jakarta 2018 yaitu Rp3.648.035 (www.goukm.id). Kenaikan per tahun adalah 8,71 persen. Oke, lanjut ke realita. Uang 3,6 juta untuk hidup di Jakarta masih dalam kategori pas-pasan, tergantung pada jumlah anggota keluarga, lokasi tempat tinggal, usia (pendidikan) anggota keluarga, pajak penghasilan, moda transportasi, dan biaya kesehatan. Masih banyak yang bisa ditambahkan.

Lalu aku bertanya ke beberapa anak milenial yang lahir tahun 1980an. Lelaki muda ini berusia 27 tahun dan setelah lulus kuliah tahun 2015, dia bekerja di sebuah LSM di Jakarta. Gaji awalnya adalah 4,5 juta, diberikan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Selain itu, setiap tahun ada kenaikan sesuai kinerja. Dia tidak menyebutkan berapa kenaikannya. Perkiraanku tahun 2018 ini dia sudah mendapat sekitar 5 juta/bulan. Biaya hidupnya cukup mahal karena dia memilih tinggal di pusat kota yang dekat dengan tempat kerja. Untuk kos saja dia menghabiskan 1,2 juta/bulan.

Selanjutnya, seorang perempuan muda yang tinggal di Bogor dan bekerja di Jakarta. Usianya 24 tahun dan sudah bekerja di sebuah perusahaan komunikasi digital. Gajinya 4,6 juta/bulan, plus BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Dia pernah kos di Jakarta karena perjalanan Bogor-Jakarta memakan waktu dan energi. Tetapi biaya hidup yang besar (baca: biaya kos mahal), maka dia kembali ke rumah. Meskipun dia menyukai pekerjaan dan tempat kerjanya, dia masih mencari kesempatan di tempat lain dengan bayaran yang lebih tinggi.

Terakhir adalah seorang perempuan berusia 26 tahun dan perantau dari Sumatera Utara. Saat ini dia sedang menempuh pendidikan magister di sebuah perguruan tinggi dengan dukungan orang tua. Aku melihatnya sebagai orang yang cerdas, asertif, selera humor yang tinggi, cukup percaya diri, dan mudah bergaul. Aku mengenalkannya dengan sebuah LSM yang ada di Sumatera Utara, tempat aku pernah bekerja. Jika dia kembali ke tempat tinggalnya, mungkin dia berminat bekerja di LSM ini. Rupanya dia punya pertimbangan lain. Dia mengatakan, “Bukannya aku tidak tertarik di LSM kak, tapi bagaimana dengan kondisi dan keamanan kerja? Dari sisi gaji, tunjangan, dan lain-lain.” Sebagai seorang anak yang masih dibiayai orang tua, dia merasa berkewajiban untuk memberikan sebagian penghasilan ke orang tua. Biaya kuliah magister per semester saja habis 9 juta, belum termasuk biaya hidup dan biaya perkuliahan lainnya. Setiap anak pasti merasa punya panggilan untuk menyenangkan dan membanggakan orang tua mereka. Apalagi kalau orang tersebut adalah pencari nafkah utama keluarga.

Ketika aku survei di internet, ada beberapa artikel yang membahas tentang tuntutan keluarga, tekanan biaya hidup, dan kegundahan orang muda untuk dapat hidup layak. Seorang perempuan muda dengan penghasilan 3 juta/bulan di Jakarta masih harus dibantu orang tuanya untuk hidup layak. Bahkan ada ejekan bahwa biaya kuliah per semester lebih besar dibanding gaji.

Aku ingat pernah beberapa kali membahas hal ini dengan almarhum Maria. Bukan salah orang muda jika mereka mencari dan berpindah kerja untuk mendapatkan gaji yang lebih layak dan kondisi kerja yang lebih baik. Biaya pendidikan dan biaya hidup sangat tinggi. LSM tempatku bekerja akan sulit mendapatkan pekerja jika menggunakan teknik rekrutmen tradisional. Mungkin orang dengan keingintahuan yang tinggi, kelas menengah, dan memiliki ikatan personal dengan isu sosial yang mau dan mampu bekerja di LSM nasional atau lokal.

Namun itu juga bukan berarti ketika seseorang mengangkat dan mempertanyakan isu gaji di LSM kemudian dirundung habis-habisan dan dipertanyakan loyalitasnya. Aku sendiri lulusan magister dengan gaji terakhir 3 juta/bulan dan tidak ada kenaikan selama hampir 4 tahun. Ketika aku mendapat beasiswa dari negara untuk kuliah doktoral dua tahun silam, aku baru mendapatkan kenaikan. Tentunya kenaikan dari lembaga pemberi beasiswa, bukan lembaga. Namun, aku melihat keduanya saling berhubungan. Ya, apalah hari gini yang tidak berhubungan?

Akhir kata, aku berdoa agar lembagaku diberkati sehingga dapat memberikan kompensasi yang layak, mendapatkan pekerja yang berkualitas baik, dan memelihara gerakan sosial yang sudah dimulai. Amin.

Bogor, 10 Mei 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *