Pengalaman-Saya

Surat untuk sahabat 2, Juli 2026

Hai D,

Aku setuju menulis dengan tangan itu menyenangkan, selain untuk alasan kesehatan otak. Terutama bagi kita yang mendekati 50s. Apalagi aku punya fountain pen dan aku senang menulis dengan pena itu. Kalau sulit ngikutin brain gym Ri**, mungkin D bisa coba brain gym bagi perempuan usia 40an. Siapa tahu latihannya agak berbeda. Soalnya exercise otak ala emak-emak yang tiap hari survival mode, bisa jadi berbeda.

Ngomongin soal survival, sesuai banget dengan konteks sekarang. Aku paham kalau aku juga tidak banyak pilihan. Melamar pekerjaan bukan pilihan ideal karena dunia kerja ala Linkedin masih bias usia dan gender. Berhubung aku staf temporer dengan hitungan waktu kerja part-time, gajiku di sini juga belum menutupi pengeluaran selama satu bulan. Jadi itu salah satu alasan aku tidak berminat lanjut. Aku juga ingin menjaga jarak dengan Kak D yang menjadi koordinator Permampu. Aku masih terbuka untuk pekerjaan kontrak yang lebih pendek dari 1 tahun. 

Ekonomi kita memang sedang berantakan tapi itu seperti by-design. Kayak dirancang untuk kacau untuk kepentingan kelompok tertentu. Aku masih bisa bertahan tapi aku juga mengalami kerugian di atas kertas. Tapi aku masih punya penghasilan pasif dari berbagai instrumen yang memadai untuk nambah gaji yang tidak cukup. Aku juga khawatir dengan pekerjaan R karena asuransi dia membantu aku untuk merawat gigi, mata, dan perawatan lain. R juga menanggung sebagian pengeluaran keluarganya. Adiknya punya 4 anak, salah satunya ABK, di-PHK tidak resmi 4 bulan lalu tetapi tidak menerima pesangon. Satu pabrik seperti itu. 

Banyak kasus seperti ini. Kita gak sendiri, banyak teman yang terluka, sama-sama berjuang, menolak menyerah. Kalau aku baca tidak hanya di Indonesia, di Thailand dan Korea Selatan juga sama. Sekarang ini lebih terasa sekecil apapun yang bisa aku lakukan, sangat berharga. Salah satunya bisa BAB dan BAK. Salah satu temanku, Al di Cirebon, hampir 4 tahun jadi pasien cuci darah. Dia lebih muda beberapa tahun dariku. Aku pikir kalau cuci darah 2 minggu sekali, beres. Tapi karena ginjal tidak berfungsi, pasien harus mengatur minum. Sebagian pasien yang ginjalnya rusak parah tidak bisa kencing atau sangat sedikit. Air kencing akan diolah setiap cuci darah. Melihat kondisi penglihatan ibu yang buruk, aku juga merasa penglihatan yang baik itu anugerah. Semakin kacau sistem ekonomi, semakin aku merasa fisik dan psikisku ini adalah perlindungan terakhir.   

Soal AI, aku masih menggunakan Gemini, ChatGPT, dan Canvas. Lebih penting lagi aku sedang berusaha beralih dari ekosistem Google ke Proton. Tools dari Microsoft juga berusaha dikurangi. Jadi aku lebih banyak pakai Linux Mint. Ini untuk privasi dan keamanan. 

Kemarin malam, aku tidur nyenyak karena capek di perjalanan meskipun naik bus sleeper. Aku belum merasa menjadi caregiver untuk ibuku tapi itu saja melelahkan. Aku sudah mencari informasi honor caregiver medis dan non-medis untuk persiapan masa tua. Aku dan beberapa teman juga ngobrol seperti apa masa tua nanti: tinggal di mana, bersama siapa, biaya bulanan, olahraga yang dilakukan. Lutut kiriku kadang nyeri. Salah satu terapi yang berhasil adalah jalan kaki di air. Semakin tinggi airnya, semakin berat jalannya. 

 Disambung lain kesempatan ya. Kalau bisa ketemu dalam minggu ini, akan aku usahakan.

27 Juli 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *