Jeda
Aku mengambil cuti hari ini. Hanya satu hari. Aku tahu itu tidak cukup untuk menguraikan keruwetan dalam pikiran. Masih banyak pekerjaan karena semua kegiatan terkumpul mulai September sampai Desember. I feel “too much” and overwhelmed.
Itu baru terkait pekerjaan, belum dengan hal lain seperti mengelola keuangan pribadi, merawat hubungan dengan orang tua dan teman, mengelola TranscriptDOC, dan mengelola keperluan rumah tangga. I know I am not alone. Banyak manusia lain yang berjuang dengan masalah yang sama. Cara mengatasinya berbeda. Atau beberapa orang mungkin mengabaikannya daripada mengatasi. Kadang dengan waktu dan fokus yang silih berganti, keruwetan itu tidak terlalu terasa tapi bukan berarti hilang. “Dia” hanya dikesampingkan untuk sementara waktu.
Aku juga paham kenapa sebagian orang memilih bundir ketika depresi. Aku merasa aku belum berada di tahap itu tapi ketika mengalami burnout, aku merasa kehilangan koneksi dengan realitas; termasuk dengan orang-orang yang dekat dan aku cintai. Aku merasa relasi tersebut menjadi “tidak relevan”. Aku juga kehilangan hasrat untuk berhubungan seks. Aku malas keluar rumah atau bertemu orang lain. I am tired.
My organization told me that this organization is not a pile-up of workloads. There is a vision and mission to it. True. Namun, saat berusaha mencapai visi dan misi, menerapkan nilai dalam pekerjaan; aku merasa mau tenggelam. Di artikel sebelumnya, aku menulis perasaan suffocate atau tercekik karena sulit bernapas.
Perasaan itu mengingatkan aku ketika berada di kolam simulasi tsunami di Hawai Waterpark, Malang beberapa tahun lalu. Ketika ada gelombang tinggi dan panjang menyeret tubuhku ke bawah permukaan air. Aku sudah bersiap dan beberapa teman juga bisa berenang, tapi masih terasa kesulitan bernapas. Perasaanku tiga hari lalu seperti itu. Sekarang aku merasa bisa bernapas tapi masih berjuang untuk menjaga kepala berada di atas permukaan air. Aku mencari benda apapun yang bisa menjadi pelampung atau penyelamat. Jeda beberapa hari ini menjadi semacam pelampung.