Jakarta gak punya langit
Kadang aku masih berpikir untuk pindah domisili ke Jakarta. Aku lahir dan besar di Jakarta Timur, di pinggiran Cibubur yang dekat dengan Depok dan Kabupaten Bogor. Aku merasa ada kedekatan historis dan emosional dengan Pasar Rebo, Cilangkap, dan sekitarnya. Dua hari lalu, aku memutuskan, tidak lagi mempertimbangkan hal itu.
Selama 6 hari terakhir, aku menginap di sebuah hotel di daerah Menteng, Jakarta Pusat. Aku tinggal di lantai 9 dengan pemandangan perpustakaan nasional dan monas. That’s why I woke up every morning for the past 5 mornings. Aku biasanya bangun jam 4 pagi dan aku terkejut karena sampai dengan jam 9 pagi, aku belum bisa melihat langit biru dan awan putih di Jakarta. There are no clouds. It’s bleak!
Kenapa aku terkejut? Karena selama lebih dari 7 tahun aku tinggal di Kota dan Kabupaten Bogor, aku selalu terbiasa dengan matahari cerah, langit biru, dan awan putih di langit. I feel alive. Sejak 2019, aku rajin berjalan kaki dan salah satu alasannya adalah aku ingin merasakan sinar matahari, melihat langit biru, menghirup udara segar, dan melihat sekeliling. Selama 5 tahun terakhir aku tinggal di Kota Bogor, aku menikmati pemandangan yang dapat membantu melepas lelah.
Kualitas udara di Kota Bogor bukan yang terbaik dan kadang udara kotor dari wilayah pabrik juga terasa. Tapi aku merasa lebih baik dari Kota Jakarta, terutama dari Jakarta Pusat atau wilayah industri yang dekat dengan Jakarta. Aku berharap warga Jakarta Selatan dan Timur masih bisa melihat langit yang biru, atau agak biru. Aku terdengar putus asa banget.
Kenapa aku terkejut? Karena aku besar di Jakarta di tahun 1980-1990an. Aku sering menggunakan transportasi umum dan aku paling suka duduk di dekat jendela, melihat keluar dan memandang langit sambil termenung. Bengong saja; tanpa berpikir apapun. Mungkin orang lain juga melakukannya.
Belum lagi sejak 2011 sampai 2015, aku tinggal di Kota Malang. Langitnya biru yang biru. Definisi biru sebenarnya. Aku juga pernah berkunjung ke Raja Ampat. Ya Tuhan, bukan cuma langit yang biru di sana, air lautnya juga gradasi biru yang indah. Biru itu warna yang membuat nyaman.
Pemandangan langit yang abu-abu ini sangat mengecewakan. Aku benar-benar merasakan bahwa kualitas udara, kecukupan sinar matahari, dan hawa suatu tempat berdampak pada suasana hati dan emosi.